Sabtu, 04 Oktober 2008

ied

href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/" title="design by n0e">border="0"
src="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/images2/kartu lebaran 7.jpg">style="position:absolute;left:0px;top:0px">href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/"
target="_self">
href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/">
Lihat kartu ucapan lebaran lainnya dari Sarerea InDesigner

ied

href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/" title="design by n0e">border="0"
src="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/images2/kartu lebaran 7.jpg">style="position:absolute;left:0px;top:0px">href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/"
target="_self">
href="http://www.bmw-mjoelner.com/sarereaindesigner/">
Lihat kartu ucapan lebaran lainnya dari Sarerea InDesigner

Minggu, 14 September 2008

RAK KomFE

Alhamdulillahhirobbul'alamin..
Rapat Anggota Komisariat HMI KOMFE UNIB tengah berlangsung sejak tanggal 12 Romadhon 1429 H di wisma Dinas Transmigrasi Anggut Bengkulu. Dengan ini telah diterima dan disahkan LPJ Kepengurusan HmI KomFE UNIB periode 2007-2008.
Semoga Ketua Umum HmI KOMFE yang baru dan jajarannya dapat memberikan yang lebih baik dari periode-periode sebelumnya..
Amin..

Jumat, 05 September 2008

romadhon 1429H

More RAMADHAN graphics

Dibalik PKK yang Ricuh..

Hari itu tepat tanggal 27 Agustus 2008, hari ke-2 kegiatan pengenalan kehidupan kampus atau yang disebut dengan PKK. Sebagian panitia pelaksana adalah mahasiswa yang pernah menjadi panitia PKK pada dua periode sebelumnya, sehingga masing-masing sudah memprediksi bagaimana perjalanan PKK kali ini.
dimulai dari tampak dengan jelas orientasi masing-masing panitia dengan kepentingan yang berbeda-beda. masing-masing kepentingan sudah tidak lagi menjaga kemurnian kegiatan mahasiswa di kampus dengan menunjukkan tujuan dan kepentingan masing-masing.
tidak hanya itu, perangkat kampus atau yang lebih dihormati seperti bapak-bapak pejabat kampuspun tidak segan-segan menunjukkan kepentingan pribadinya, mulai dari perbedaan waktu pelaksanaan, isi agenda acara, anggaran biaya, hingga turut campur langsung dalam mengatur acara PKK tersebut.
Panitia sudah sewajarnya merasa tersinggung karena secara tidak langsung bapak pejabat kampus yang terhormat tersebut telah merebut wilayah mahasiswa yang murni dari berbagai kepentingan dan lain sebagainya.
sungguh mengecewakan ketika acara yang ditanganinya secara langsung adalah tanpa pertimbangan secara matang. tidak adanya kejelasan pemateri yang akan membawakan kegiatan, hingga kesalahan yang fatal adalah dimana elemen yang seharusnya tidak ikut andil dalam kegiatan ini juga diikut sertakan.
bisa dikatakan ini sudah merusak nama Islam secara tidak langsung karena memaksakan umat yang tidak memeluk agama Islam untuk mengikuti acara motivasi yang pada dasarnya adalah penyadaran diri mahasiswa (seperti esq dan baiat-red).
belum lagi terjadi kesalah pahaman antar panitia dengan panitia dan antar apnitia dengan pejabat kampus. wal hasil peserta PKK dapat langsung mengetahui apa yang sebenarnya akan mereka hadapi dimasa depan. minimal rekan-rekan mahasiswa baru sudah memiliki ghiroh untuk memenangkan yang Haq dan mengatakan tidak pada yang bathil.
semangat terus kawan-kawan.
yakusa..

Sabtu, 16 Agustus 2008

Innahul Haq

assalamu..
HMI KOMFE UNIB menerbitkan buletin Innahul Haq edisi ke-2. diataranya mengupas tentang euforia Dan utopis HMI, MUNASKO 19 Palembang, Peta permasalahan umat, independensi islam dan kemahasiswaan, dll.

silahkan dapatkan pada bidang Pengembangan Profesi dan Kewirausahaan KOMISARIAT FE UNIB..
wassalam..

KETUA UMUM PB HMI TERPILIH, ARIF MUSTOFA

Mobile : +62817130611, +628998142404, e-mail : mustho_arip@yahoo.com; mustho.arip@gmail.com, web: www.musthoariponline@blogspot.com
DATA PRIBADI
Nama : Arip Musthopa
Pekerjaan : Tenaga Ahli Komisi VII DPR RI
Tempat / tanggal lahir : Bogor, 7 Juli 1979
Jenis Kelamin : Laki-laki
Status : Belum Menikah
Mobile : 0817130611 / 08998142404
E-mail : mustho_arip@yahoo.com; mustho.arip@gmail.com
Website : musthoariponline@blogspot.com

PENDIDIKAN
SDN Karehkel III Kecamatan Leuwiliang - Kab. Bogor Lulus 1991
SMPN Leuwiliang I Kab. Bogor Lulus 1994
SMAN I Leuwiliang Kab. Bogor Lulus 1997
Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Lampung Lulus 2003
Pasca Sarjana Ilmu Politik FISIP Universitas Indonesia 2005 s.d. Skrg
PEKERJAAN
Tenaga Ahli Komisi VII DPR RI (Januari 2006 - sekarang)
Bid. Energi dan Sumberdaya Mineral, Riset & Teknologi, dan Lingkungan Hidup
Tenaga Ahli Anggota DPR RI/Komisi VII (2004-2005).
Bid. Energi dan Sumberdaya Mineral, Riset & Teknologi, dan Lingkungan Hidup
Staf Peneliti Laboratorium Ilmu Pemerintahan dan Otonomi Daerah FISIP Univ. Lampung (2001-2003)
Staf Penanggungjawab Pelaksanaan Polling Harian Lampung Post 2001-2003
FOKUS PENELITAN & PEKERJAAN
Komisi VII DPR RI:
Kajian Optimalisasi Kebijakan Pengelolaan Migas dalam Sektor Hulu dan Hilir (Tenaga Ahli Komisis VII dalam Panitia Kerja BP&BPH Migas)
Kajian Cost Recovery dalam Kontrak Kerjasama (Tenaga Ahli Komisi VII dalam Panitia Kerja Cost Recovery)
Kajian Optimalisasi Penerimaan Negara, Dampak Lingkungan Hidup, Isu Sosial Budaya dalam Pengusahaan Pertambangan PT Freeport Indonesia (Tenaga AHli Komisi VII dalam Panitia Kerja PT Freeport Indonesia)
Kajian Pengelolaan Timah di Bangka Belitung terkait penerimaan negara, dampak lingkungan hidup, perundang-undangan, dan penambangan tanpa ijin (Tenaga Ahli Komisi VII dalam Panitia Kerja Timah)
Kajian pengelolaan energi nasioanal jangka panjang (Tenaga Ahli Komisi VII dalam pembahasan Undang-Undang No. 30/2007 tentang Energi)
Kajian pengelolaan pertambangan mineral dan batubara di Indonesia (Tenaga Ahli Komisi VII dalam pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Pertambangan Mineral dan Batubara)
SEMINAR DAN PELATIHAN
Seminar Ketenagalistrikan Nasional - “Dukungan Legislatif Terhadap Rencana dan Strategi Pengembangan Sistem Kelistrikan Nasional 2007-2014”. Jakarta, 8 Februari 2007.
International Investment Summit Responding To The Energy Challenges - ”The Bill Of Mineral And Coal Mining”. Jakarta Convention Centre, 5 - 7 November 2007
Expending The Energy And Mining Sector Revitalization, ”Accelarating The Clean & Renewable Energy Development” Jakarta, 23 Juli 2007.
Indonesian Mining Conference And Exhibition 2007: ”Re-Invigorating Indonesian Mining Let's Look Ahead” To Develop A New Platform To Increase The Role Of Mining, To Increase The Welfare Of The People Wednesday, Jakarta, 31 Oktober, 2007.
Seminar : Prospects Of Nuclear Electric Power In Indonesia, Kadin Indonesia Bekerjasama Dengan Batan Dan Jetro. Jakarta, 22 Februari 2007.
Australian Mining And Petroleum Exhibition 2007, “Perbaikan Aspek Regulasi Bagi Pengembangan Industri Pertambangan Nasional”. Jakarta, 30 Januari 2007.
Seminar Teknologi Nasional “Komitmen Politik Untuk Kemandirian Bangsa”. Jakarta, 21 September 2006
Seminar “Nuclear Power Plant For Public Information”, Direktorat Jenderal Listrik dan Pemanfaatan Energi (Djlpe) Dan Korea Hydro & Nuclear Power Co. Ltd (Khnp). Jakarta, 29 Agustus 2006
Lokakarya “Strategi Pengembangan Industri Plts Untuk Mencapai Target Energi Surya Dalam Energi Mix Nasional 2025”, “Aspek Regulasi Pengembangan PLTS Di Indonesia” 23 November 2006, Jakarta
Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar, FISIP Unila, 1998
Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah, Unila, 1998
Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Lanjut, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 1999
Advance Training HMI, Badko Kalimantan Barat, 2005
Intermediate Training HMI, Cabang Bulaksumur, 1999
Basic Training HMI, Cabang Bandar Lampung, Desember 1997
Diklat Jurnalistik Tingkat Dasar, LPM Republica FISIP Unila, 1998
Kursus Komputer di DCC Bandar Lampung, 1997
PUBLIKASI KARYA TULIS
Analisis tentang Perdebatan Oposisi Politik di Indonesia, Skripsi, Universitas Lampung, Bandar Lampung, 2003.
Agama dan Makna Hidup, Lampung Post, 1 April 2001
Meluruskan “Good Governance”, Lampung Post, 11 September 2001
Gerakan Anti-Amerika, Lampung Post, 18 Oktober 2001
Mendebat Kembali Putra Daerah, Lampung Post, 18 Februari 2002
Corak Pemikiran Politik Islam Cak Nur, Lampung Post, 7 April 2002
Refleksi 56 Tahun HMI: Keharusan Melakukan Perubahan, Lampung Post, 5 Februari 2003
Dll
PENGALAMAN ORGANISASI KEMAHASISWAAN & KEPEMUDAAN
Sekretaris Redaksi LPM Republica FISIP Unila, 1998-1999
Pendiri dan Koordinator Umum Pertama Lingkar Studi Sosial Politik Cendekia FISIP Unila, 1999-2000
Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa FISIP Unila, 2000-2001
Ketua Umum HMI Cabang Bandar Lampung, 2002-2003
Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, 2004-2005
Ketua Bidang Pembinaan Anggota Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam, 2006-2008
PENGALAMAN FORUM INTERNASIONAL
Delegasi PB HMI ke Asian Youth Forum, Bangkok, Januari 2007.
Kunjungan DPR RI ke Senat, Kementerian Energi, Stakeholders di bidang pertambangan, dan lokasi tambang di Chili, November 2007.

Kongres HMI Ke-26 Di Palembang Sarat Money Politik

Terminologi ?suksesi? atau lazim disebut pergantian ketua Umum, bagi kalangan HMI tentunya bukan lagi istilah yang asing dalam kosakata para pegiat Kongres HMI. Lumrahnya istilah suksesi yang diterjemahkan sebagai tindakan mengganti ketua umum. Dukung dan tidak mendukung kerap kali menjadi wacana yang menguat seputar sosok pengganti ketua umum yang menjadi fokus dalam arena Kongres HMI. Apalagi jika sosok kandidat identik dengan proses mobilisasi vertikal yang sarat dengan permainan "UANG".

Dalam kongres HMI ke-26 di Palembang wacana money poltic yang dilakukan oleh kandidat tertentu masih mencuat, dan bagi beberapa kalangan ini pembelajaran buruk bagi sebuah organisasi yang selama ini identik sebagai laboratorium kader bangsa.

Pada hal jika ditilik kembali kebelakang, sejarah mencatat bahwa sudah menjadi semacam prototipe bagi HMI, dimana gagasan-gagasan monumentalnya kerap melampaui pikiran zaman yang sedang bergulir, ide-ide HMI selalu futuristik dan memberikan pilihan alternatif solusi. Karena pola pikir yang konstruktif inilah sehingga kerap kali HMI dan kader-kadernya mengambil tempat yang strategis dalam kelompok-kelompok pembaharuan. Namun sayangnya prototipe HMI yang bagus ini tergerus ke dasar parit pragmatisme oleh sekelompok orang atau individu yang menganut paham "Jual Beli" dalam memuluskan pertarungan politiknya. Apalagi pola ini diterapkan pada organisasi yang kulturnya tidak bisa membenarkan "Jual Beli".

Istilah Jual Beli ini mengarah pada Fenomena jalan instan menuju kursi ketua Umum PBHMI dengan menggunakan kekuatan UANG, pola ini memang bergulir seiring dengan berkembangnya budaya pragmatis dan instant thingking. Bagi beberapa kalangan atau kader HMI yang tidak terlalu menganggap penting sebuah proses dan kapasitas memang memilih jalan pintas mencapai puncak kepemimpinan HMI dengan mengandalkan dukungan uang.

Kelompok yang mengedepankan cara berpikir komersial dan money oriented di HMI memiliki ciri yang sangat kapitalis. Dalam membangun jaringan dapat ditebak sejak awal jaringan yang dibangun adalah jaringan yang membuka akses pada pemegang kapital dan pemangku kepentingan politik.

Mereka juga tidak begitu menonjol dalam berbagai hal, akan tetapi memiliki akses ke komunitas pragmatis. HMI dan infrastrukturnya bagi mereka dapat digadaikan dengan janji dan komitmen yang sudah bisa ketebak akan mencederai independensi HMI. Kalau mengacu pada istilah "Tidak ada yang gratisan", maka dukungan logistik yang bagitu royal dikeluarkan oleh para founding dan spekulan politik kepada " Para kandidat ketua Umum PBHMI pasti dibarengi dengan imbalan komitmen politik yang tentu sulit diterima akal sehat organisasi. Karena sudah pasti HMI akan digadaikan.

Sebut saja misalnya secara tedeng aling-aling dapat kita katakan bahwa tercium aroma tidak sedap dalam arena kongres HMI ke-26 di palembang, dimana beberapa kandidat menurut beberapa sumber mendapat bantuan yang tidak sedikit dalam menopang pertarungannya di Kongres HMI. Ada yang mendapat bantuan Ratusan tiket pesawat pulang pergi Jakarta Palembang, ada yang mendapatkan uang kes ratusan juta, bahkan ada yang ditengarai menggunakan Uang Palsu dalam transaksi jual beli cabang. Sebelum kita lanjutkan mari kita beristigfar ramai-ramai, sebab yakin saja jika budaya pragmatis dan materialistis seperti ini yang kini menggejala dalam pola pikir HMI, maka kematian dan kebangkrutan organisasi HMI tidaqk sulit diprediksi kapan kematiannya.

Islah HMI Kian Menguat

Islah mulai terintis pada pembukaan Kongres ke-26 HMI di Hotel Novotel Palembang. Suasana islah kian menguat pada pembukaan Munas Kohati ke-19, sehari kemudian.

Musyawarah Nasional (Munas) Korp Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)-wati (Kohati), Selasa (29/7), di Asrama Haji, dibuka langsung oleh Ketua Umum HMI Fajar R Zulkarnaen.

Pada agenda dua tahunan para kader wanita HMI ini, terlihat isu islah antara HMI Dipo dan HMI MPO menjadi topik pembicaraan hangat antarkohati yang datang dari seluruh Indonesia. Maklum saja, perpecahan di tubuh HMI sudah berlangsung sangat lama, yakni sejak 1971 karena diterapkannya asas tunggal Pancasila. Dan kini, kebekuan antar dua kubu itu bakal mencair.

Salah seorang anggota kohati dari Yogyakarta mengatakan, apa yang terjadi pada pembukaan kongres merupakan suatu akumulasi desakan internal HMI yang mencuat sehingga terungkap pada momen besar seperti ini.

“Dari kohati sendiri sebenarnya kita menginginkan niat suci untuk islah harus segera direspon, terutama oleh kita semua, inilah saat yang tepat karena jika kita kehilangan kesempatan ini kita harus menunggu kesempatan itu datang di kongres nanti dan mungkin juga tidak,” ujar dia.

Titin Maryati, anggota kohati Palembang, punya pandangan sedikit berbeda. Dia mengatakan, perlu adanya penjernihan pemikiran sebelum menginjak ke langkah yang lebih nyata.

“Apakah kita islah benar-benar untuk sebuah kebangkitan organisasi atau hanya ingin tunjukkan hal berbeda di depan KAHMI? Siapapun kader HMI pasti sudah merasakan capek dengan konflik-konflik internal yang menggerogoti militansi kader,” ungkap dia.

Sementara Ketua Umum Kohati 2006-2008 Betty Epsilon Idroos, dalam sambutan pada acara pembukaan, mengatakan, kohati harus mampu menyeimbangkan antara kodrat perempuan dan jiwa kejuangan yang telah melekat dalam nadi. Dengan demikian kohati dapat memberikan kontribusi yang besar untuk menuju masyarakat yang adil dan makmur.

“Kita harus berusaha seoptimal mungkin sehingga kohati ke depan lebih terlihat dan terasa perannya dalam menancapkan nilai-nilai dasar perjuangan organisasi,” jelas dia.

Jumat, 08 Agustus 2008

Info KomFE Agustus 2008

Hari ini cukup istimewa.. Tanggal 8 bulan 8 tahun 2008 en sekarang lage jam 8 malem..
oiya..
Assalamu'alaikum wr.wb kawan-kawan.., kakak-kakak, yunda-yunda.., sodara-sodare..
buat yang lage nunggu buletin KomFE skali lagi maaf ya.. Materi dan sebagainya sudah jauh-jauh hari clear.. permasalahan kalsik.. SDM kurang, yang ada sibuk gak karuan..
tapi dijamin kok, bentar lagi terbit edisi yang kedua en lebih tebel dari edisi pertama.. yakin deh..

betewe semangat terus deh temen-temen komisariat.., buktina tanggal 30 Juni yang lalu KomFE ngadain peringatan Isra Mi'raz Nabi besar Muhammad SAW en malemna langsung dilanjutin PDT alias Personal Development Training. en sebelomna, kita mo ngucapin:
"Selamat" to Kanda/Yunda yang resmi jadi Sarjana (Ekonomi, Fisip, Hukum, Pertanian, F-Kip,dll). waktu wisudapun anak-anak KomFE ikut serta dalam kewirausahaan, yah minimal semangatna yang bahasa kerenna ghiroh tetep terjaga, insyaAllah..

Buat Kanda/Yunda yang lagi kurang sehat, kita do'ain moga diberi kekuatan dan kesembuhan dari Allah SWT. amin..

demikianlah warta seputar kegiatan KomFE dua minggu ini..
Yakin Usaha Sampai..
Wassalamu'alaikum wr.wb.

Selasa, 10 Juni 2008

KONFERCAB BENGKULU

assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..

HmI Bengkulu baru saja selesai menggelar agenda wajib cabang. Juni, 6 - 8 tahun 2008 HmI Cabang Bengkulu menggelar Konferensi Cabang. Alhamdulillah acara ini berlangsung dengan sangat baik dan sukses. terbukti dengan dihadiri oleh seluruh komisariat yang ada di lingkungan HmI Cabang Bengkulu. ini membuktikan bahwa HmI di Bengkulu sangat apresiatif dalam mengikuti agenda besar ini.
setelah melalui beberapa agenda akhirnya terpilihlah Ketua Umum Cabang Bengkulu yang baru, yaitu Beni Suryadiningrat. Semoga HmI Cabang bengkulu dapat bangkit oleh semangat kakak-kakakku sekalian.

HmI KomFe selain ikut andil dalam rekomendasi peserta, kepanitiaan dll, KomFe juga melakukan konvensi untuk merekomendasikan balon Ketum pada beberapa hari sebelum KonFerCab dilaksanakan. mudah-mudahan langkah ini memberikan atmosfer baru dalam ber-HmI dan memberikan sedikit ghiroh perjuangan kader bangsa. Amin..

Yakusa..
Wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh..

Sabtu, 24 Mei 2008

BBM OR REFORMASI?

21 mei 2008 genap 10 tahun Indonesia dalam buaian reformasi yang entah apakah masih ada esensi yang bisa diambil dan dipertahankan dalam nafas bumi pertiwi ini.. di saat-saat sedang panasnya hawa perekonomian diIndonesia, sebagian pemuda justru sibuk dengan urusan masing-masing.. rakyat yang selama 2 minggu telah menanti suara-suara kawan-kawan untuk unjuk gigi dalam mempertahankan kesejahteraan rakyat harus menelan pil pahit kenyataan bahwa mahasiswa bengkulu masih juga tak perduli dan hanya saling ngobrol di kantin saja. lebih tidak enak dirasakan apalagi sebagian pemuda justru membuat aksi yang nggak ada sangkut-pautnya mengenai ditariknya subsidi BBM dan peringatan reformasi (walopun sekedar seremonial belaka sih).. miris, justru yang difikirkan hajat hidup sekelompoknya saja.. aduh aduh.. kawan, sebagai hamba utusan Allah kita diperintahkan untuk menjadi khalifah fil ardh, memperjuangkan hak rakyat dan bukan memperjuangkan hak kelompok sendiri.. dewasa Bung!! ini bukan zamannya rebutan bangku sekolah.. apa yang akan dipertanggungjawabkan di hari akhir nanti?
memang untuk jangka panjang ditariknya subsidi BBM sangat layak untuk diberlakukan dan merupakan pendidikan bagi rakyat untuk terus berjuang tanpa terlena dengan bantuan pemerintah. tapi ya mbok dipikirkan bahwa rakyat juga manusia yang ingin merasa ditemani dalam perjuangan hidupnya.

Jumat, 16 Mei 2008

Basic Training

hari ini hari ke-2 HMI KOMFE UNIB melaksanakan agenda basic training dengan peserta awal berjumlah 10 orang. Training kali ini mengusung konsep keislaman yang dengan tujuan spesifikna mengharapkan kader komfe baik yang insyaAllah akan dilantik ataupun yang sudah dilantik menjadi lebih dalam "I".
yakusa..

KEBIJAKAN PUBLIK, SUDAHKAH RESPONSIF GENDER

 (Introspeksi dalam rangka Peringatan Hari Perempuan Internasional, 8 Maret 2008) Oleh : Ruhana Faried, SHI. MHI (Ketua KOHATI PB HMI)

Tanggal 8 Maret setiap tahunnya diperingati sebagai hari perempuan internasional. Berbagai kegiatan dilakukan pada hari tersebut. Mulai dari seminar, dialog publik, aksi damai di jalan, panggung aspirasi dan beberapa kegiatan lainnya. Umumnya diselenggarakan oleh kelompok NGO, ORMAS dan OKP perempuan. Berbagai issu diusung dalam kegiatan ini. Issu yang diusung, tentu saja berorientasi pada kepentingan perempuan. Pertanyaannya kemudian, kenapa harus untuk kepentingan perempuan? Dan kenapa harus perempuan?

Pertanyaan ini sebenarnya bukanlah hal yang baru dan tabuh. Sebab hal ini senantiasa dipertanyakan oleh beberapa kalangan, khususnya mereka yang tidak paham mengenai gender. Acapkali gender dipahami sebagai ”jenis kelamin” yaitu perempuan. Sungguh sangat menggelitik...

Gender merupakan konstruksi sosial budaya yang telah berakar dalam dinamika kehidupan yang senantiasa patriarkhi dan cenderung memarginalkan perempuan.
Kaum perempuan selalu mendapatkan imbas dari konstruksi sosial budaya yang menganggap bahwa perempuan adalah kaum yang lemah dan berbagai pelabelan tidak baik disandarkan padanya. Akibatnya, kaum perempuan banyak menerima kekerasan dan ketidakadilan dalam hidup bermasyarakat. Hal inilah yang menjadi keresahan para aktivis dan tokoh perempuan di seluruh dunia. Upaya apa yang harus dilakukan untuk meminimalizir atau bahkan merombak konstruksi sosial budaya berikut imbasnya?

Para aktivis dan tokoh perempuan telah melakukan berbagai upaya untuk mengubah pola pikir masyarakat. Hal ini diawali dengan memberikan penyadaran kepada kaum perempuan itu sendiri mengenai kewajiban dan haknya sebagai makhluk sosial.
Selama beberapa tahun, upaya ini dianggap berhasil. Indikasinya adalah karena sudah semakin banyak perempuan yang menyadari akan pemberdayaan potensi dirinya dan mengetahui bahaya-bahaya kekerasan yang setiap hari dapat mengancam hidupnya. Persoalan yang kemudian muncul lagi adalah kebijakan publik yang belum responsif gender.

Beberapa kebijakan yang ada di Indonesia masih sangat bias gender. Sekalipun telah ada beberapa kepala pemerintahan di daerah yang telah menyusun kebijakan yang responsif gender. Misalnya saja kebijakan pada sektor anggaran (budget). Untuk mengetahui sejauhmana kebijakan anggaran itu responsif gender atau tidak, maka terlebih dahulu harus diketahui adalah apa indikator dari anggaran yang responsif gender?

Menurut United Nation Development Fund For Women (UNIFEM) untuk dapat disebut sebagai anggaran responsif gender, harus memiliki beberapa karakteristik yaitu :
1. Bukan merupakan anggaran yang terpisah bagi laki-laki atau perempuan,
2. Fokus pada kesetaraan gender dan PUG dalam semua aspek penganggaran baik di tingkat nasional maupun lokal,
3. Meningkatkan keterlibatan aktif dan partisipasi stakeholder perempuan,
4. Monitoring dan evaluasi belanja dan penerimaan pemerintah dilakukan dengan responsif gender
5. Meningkatkan efektivitas penggunaan sumber-sumber untuk mencapai kesetaraan gender dan pengembangan SDM,
6. Menekankan pada prioritas daripada meningkatkan keseluruhan belanja pemerintah,
7. Melakukan reorientasi dari program-program dalam sektor-sektor daripada menambah angka pada sektor-sektor khusus. (sumber:www.anggaran.depkeu.go.id, 14-5-2007)
Di beberapa negara di dunia, sebenarnya telah ada yang menerapkan anggaran responsif gender seperti di Australia dikenal dengan "women's budget", di Afrika Selatan dikenal dengan gender sensitive budget analisis, Tanzania dikenal dengan sebutan gender budget inisiatif bahkan di negara tetangga kita Philipina anggaran responsif gender-pun telah dilaksanakan. Berdasarkan pengalaman beberapa negara tersebut menunjukkan bahwa anggaran responsif gender memberikan manfaat bagi pemerintah. (sumber:www.anggaran.depkeu.go.id, 14-5-2007)
Salah satu manfaat anggaran yang responsif gender bagi pemerintah adalah sebagai instrumen pemerintah untuk melaksanakan komitmennya dalam hal gender sebagaimana telah disepakati secara international. Fungsi anggaran selain sebagai fungsi ekonomi juga berfungsi sebagai distribusi pemerataan. Melalui penganggaran yang responsif gender dapat diketahui sejauh mana dampak dari alokasi anggaran yang telah ditempuh pemerintah berpengaruh terhadap kesetaraan gender. Gap/kesenjangan pelaksanaan prioritas pembangunan dapat dikurangi bahkan dihilangkan karena telah responsif terhadap kebutuhan gender (laki-laki maupun perempuan). Memberikan ruang bagi pemerintah untuk mengetahui fokus pembiayaan kepada kelompok marginal dan tidak beruntung terhadap alokasi anggaran. Lebih lanjut diharapkan dari penerapan ini adalah terwujudnya keseimbangan dan sustainable dalam pembangunan serta semakin meningkatnya akuntabilitas dan efektivitas pelaksanaan kebijakan pemerintah. (sumber:www.anggaran.depkeu.go.id, 14-5-2007)
Selain kebijakan dalam sektor keuangan (anggaran), kebijakan dalam sektor hukum (perundang-undangan) juga masih banyak yang bias gender dan tidak menganut asas keadilan. Padahal hukum itu dipahami sebagai instrumen untuk menyelesaikan ketidakadilan dalam relasi antar manusia, termasuk relasi berdasarkan gender.
Produk perundang-undangan dan fikih di mana hukum dihasilkan dan diputuskan, pada beberapa fakta tidak selamanya melahirkan keadilan bagi korban khususnya perempuan. Undang-undang No.1/1974 dan Kompilasi Hukum Islam (KHI) dalam banyak hal belum sepenuhnya mengafirmasi keadilan bagi perempuan. Melalui undang-undang ini banyak perempuan yang belum merasakan keadlan, bahkan pada beberapa perkara justeru mengalami kekerasan dan menjadi obyek penderita. Laporan Komisi Nasional Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan (KOMNAS Perempuan) tahun 2006 yang membukukan 22.350 kasus kekerasan terhadap kaum perempuan, merupakan fakta yang tidak dapat diingkari betapa kaum perempuan masih menjadi subyek ketidakadilan. (Husein Muhammad:07:3:2008). Hal ini menandakan bahwa perempuan masih menjadi ”makanan empuk” bagi produk hukum yang menimbulkan kekerasan terhadap perempuan. Oleh karena itu, adalah sangat penting bagi kaum perempuan untuk dapat terlibat sebagai gerakan affirmative action dalam pengambilan kebijakan publik di semua sektor. Sebab hanya perempuan sendiri yang memahami persis kebutuhannya.
Dalam rangka hari perempuan internasional 8 Maret 2008, sudah selayaknya menjadi bahan introspeksi bagi semua komponen baik pemerintah, NGO, LSM, OKP, ORMAS dan masyarakat luas untuk dapat bersama-sama memperjuangkan hak-hak perempuan sebagaimana pemenuhan hak-hak bagi kaum laki-laki.
Pemerintah memiliki tanggung jawab dalam memperbaiki dan memenuhi syarat kualitas hidup yang berdasarkan hak asasi manusia. Sedangkan NGO/LSM/OKP.ORMAS menjadi pengontrol atas kebijakan pemerintah.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
SELAMAT HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL 8 MARET 2008
MAJULAH PEREMPUANKU, MAJULAH BANGSAKU!!!
[pbhmi]

artikel ini buat kawan-kawan yang masih berkutat dalam lingkungan gender yang semakin lama semakin bias..
ala bisa karna biasa..
yakusa kawan-kawan..

Selasa, 06 Mei 2008

untitled

Glitter Words

insya Alloh 14 Mei 2008 KomFe mengadakan basic trining lagi.. to Dinda-dinda selamat datang en jangan leupa kita ada untuk berjuang di jalan Allah.

Selasa, 22 April 2008

Tafsir Independensi HMI

I. Pendahuluan
Menurut fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan merdeka. Karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas dan kemerdekaan seperti diatas, adalah mutlak diperlukan terutama pada fase/saat manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan. Masa/fase pembentukan dari pengembangan bagi manusia terutama dalam masa remaja atau generasi muda.
Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok elit dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam generasi muda, yaitu kelompok mahasiswa itu sendiri. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada obyektif yang harus diperankan mahasiswa bisa dilaksanakan dengan baik apabila mereka dalam suasana bebas merdeka dan demokratis obyektif dan rasional. Sikap ini adalah yang progresif (maju) sebagai ciri dari pada seorang intelektual. Sikap atas kejujuran keadilan dan obyektifitas.
Atas dasar keyakinan itu, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersifat independen. Penegasan ini dirumuskan dalam pasal 7 AD HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa "HMI adalah organisasi yang bersifat independen"sifat dan watak independen bagi HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama.
Untuk lebih memahani esensi independen HMI, maka harus juga ditinjau secara psichologis keberadaan pemuda mahasiswa islam yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam yakni dengan memahami status dan fungsi dari HMI.

II. Status dan Fungsi HMI
Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana HMI berspesialisasi. Dan spesialisasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI. Kalau tujuan menujukan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi sebaliknya menunjukkan gerak atau kegiatan (aktifitas) dalam mewujudkan (final gool). Dalam melaksanakan spesialisasi tugas tersebut, karena HMI sebagai organisasi mahasiswa maka sifat serta watak mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai HMI. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum muda muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral"atau moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi "sosial control". Untuk itulah maka kelompok mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam rangka penghikmatan terhadap spesialisasi kemahasiswaan ini, akan dalam dinamikanya HMI harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen.
Mahasiswa, setelah sarjana adalah unsur yang paling sadar dalam masyarakat. Jadi fungsi lain yang harus diperankan mahasiswa adalah sifat kepeloporan dalam bentuk dan proses perubahan masyarakat. Karenanya kelompok mahasiswa berfungsi sebagai duta-duta pembaharuan masyarakat atau "agen of social change". Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak tersebut di atas adalah merupakan kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri untuk menerima estafet pimpinan bangsa dan generasi sebelumnya pada saat yang akan datang. Oleh sebab itu fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang paling pokok. Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi kaderisasi demi perwujudan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa depan maka kelompok mahasiswa harus senantiasa memiliki watak yang progresif dinamis dan tidak statis. Mereka bukan kelompok tradisionalis akan tetapi sebagai "duta-duta pembaharuan sosial" dalam pengertian harus menghendaki perubahan yang terus menerus ke arah kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Oleh sebab itu mereka selalu mencari kebenaran dan kebenaran itu senantiasa menyatakan dirinya serta dikemukakan melalui pembuktian di alam semesta dan dalam sejarah umat manusia. Karenanya untuk menemukan kebenaran demi mereka yang beradab bagi kesejahteraan umat manusia maka mahasiswa harus memiliki ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi pada masa depan dengan bertolak dari kebenaran Illahi. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran demi mewujudkan beradaban bagi kesejahteraan masyarakat bangsa dan negara maka setiap kadernya harus mampu melakukan fungsionalisasi ajaran Islam.
Watak dan sifat mahasiswa seperti tersebut diatas mewarnai dan memberi ciri HMI sebagai organisasi mahasiswa yang bersifat independen. Status yang demikian telah memberi petunjuk akan spesialisasi yang harus dilaksanakan oleh HMI. Spesialisasi tersebut memberikan ketegasan agar HMI dapat melaksanakan fungsinya sebagai organisasi kader, melalui aktifitas fungsi kekaderan. Segala aktifitas HMI harus dapat membentuk kader yang berkualitas dan komit dengan nilai-nilai kebenaran. HMI hendaknya menjadi wadah organisasi kader yang mendorong dan memberikan kesempatan berkembang pada anggota-anggotanya demi memiliki kualitas seperti ini agar dengan kualitas dan karakter pribadi yang cenderung pada kebenaran (Hanief) maka setiap kader HMI dapat berkiprah secara tepat dalam melaksanakan pembaktiannya bagi kehidupan bangsa dan negaranya.

III. Sifat Independensi HMI
Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir, pola pikir dan pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan "Hakekat dan Mission" organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Watak independen HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader HMI akan membentuk "Independensi etis HMI", sementara watak independen HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk "Independensi organisatoris HMI".
Independensi etis adalah sifat independensi secara etis yang pada hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah tersebut membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief). Watak dan kepribadian kader sesuai dengan fitrahnya akan membuat kader HMI selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran adalah ALLAH SUBHANAHU WATA\'ALA. Dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader HMI berarti pengaktualisasian dinamika berpikir dan bersikap dan berprilaku baik "habluminallah" maupun dalam "habluminannas" hanya tunduk dan patuh dengan kebenaran.
Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan merupakan watak azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui, watak dan kepribadiaan serta sikap-sikap yang :
1. Cenderung kepada kebenaran (hanief)
2. Bebas terbuka dan merdeka
3. Obyektif rasional dan kritis
4. Progresif dan dinamis
5. Demokratis, jujur dan adil.

Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI baik dalam kehidupan intern organisasi maupun dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
Independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud. Dalam melakukan partisipasi partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI hanya tunduk serta komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas.
Dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah "commited" dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan maupun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan obyektifitas kejujuran dan keadilan.
Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan "kepemimpinan kuantitatif" serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya "prinsip-prinsip independensi HMI" maka implementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut :
• Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.
• Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.
• Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang menruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi profesional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi poilitik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab terhadap negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan negara.

IV. Peranan Iindependensi HMI di Masa Mendatang
Dalam suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini maka tidak ada suatu investasi yang lebih besar dan lebih berarti dari pada investasi manusia (human investment). Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir tujuan, bahwa investasi manusia kemudian akan dihasilkan HMI adalah manusia yang berkualitas ilmu dan iman yang mampu melaksanakan tugas-tugas manusia yang akan menjamin adanya suatu kehidupan yang sejahtera material dan spiritual adil makmur serta bahagia.
Fungsi kekaderan HMI dengan tujuan terbinanya manusia yang berilmu, beriman dan berperikemanusiaan seperti tersebut di atas maka setiap anggota HMI dimasa datang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai dengan bakat dan profesinya.
Oleh karena itu hari depan HMI adalah luas dan gemilang sesuai status fungsi dan perannya dimasa kini dan masa mendatang menuntut kita pada masa kini untuk benar-benar dapat mempersiapkan diri dalam menyongsong hari depan HMI yang gemilang.
Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak organisasi berarti HMI harus mampu mencari, memilih dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Maka konsekuensinya adalah bentuk aktifitas fungsionaris dan kader-kader HMI harus berkualitas sebagaimana digambarkan dalam kualitas insan cita HMI. Soal mutu dan kualitas adalan konsekuensi logis dalam garis independen HMI harus disadari oleh setiap pimpinan dan seluruh anggota-anggotanya adalah suatu modal dan dorongan yang besar untuk selalu meningkatkan mutu kader-kader HMI sehingga mampu berperan aktif pada masa yang akan datang.
Wabilahittaufiq wal hidayah,

Minggu, 20 April 2008

Selamat Hari Kartini...

Semoga perempuan Indonesia lebih mendalami hakekat dari Hari Kartini.
Jayalah KOHATI..
Bahagia HmI!!

Sabtu, 19 April 2008

HMI Back to Kampus ?

Saat ini, kita, khususnya kader HMI sering kali mendengar wacana HMI back to kampus, yang katanya merupakan salah satu cara untuk pendistribusian kader ke kampus sekaligus untuk mencari bibit kader yang baru. simplenya, untuk mengembalikan kembali citra HMI yang telah pudar.
Benarkah HMI mampu merealisasikan wacana tersebut? Mungkinkah wacana tersebut bisa terwujud sesuai dengan harapan? Jawabannya benar dan mungkin!!! Tanya kenapa? Karena HMI mempunyai motto YAKUSA, yakin usaha sampai, artinya tak ada kata berhenti untuk berusaha, terus dan terus, itulah militansi kader yang diharapkan!
Sekarang mari kita berkaca pada pada upaya yang dilakukan komisariat untuk merealisasikan hal tersebut. Komisariat merupakan ujung tombak pengkaderan di HMI, katanya. Artinya, tanpa komisariat tak akan pernah ada regenerasi kader di HMI. Maka dari itu, komisariat merupakan salah satu mata rantai yang sangat penting dalam HMI. Bila mata rantai ini putus maka, laju percepatan HMI akan melambat dan hampir pasti berhenti.
Untuk merealisasikan wacana HMI back to kampus diperlukan kader yang benar-benar matang. Artinya, kader tersebut memang seorang kader yang berkualitas, yang telah melewati sistematika proses kaderisasi di HMI sehingga kader tersebut siap didistribusikan ke kampus dalam rangka HMI back to kampus. Tidak hanya itu, kader-kader baru yang potensial pun seharusnya bisa langsung didistribusikan walaupun, kader tersebut belum maksimal dalam menjalani proses kaderisasi.
Paling tidak, ia bisa diberi kepercayaan untuk masuk ke dalam lingkaran sistem HMI – Kampus – HMI, sambil menyelesaikan proses pengkaderannya di HMI. Untuk itu, hendaknya proses kaderisasi ini benar-benar berjalan mulus tanpa adanya kerikil-kerikil yang bisa menghambat laju pendistribusian kader dalam rangka HMI back to kampus.
Pernah terjadi beberapa kasus di beberapa komisariat yang akhirnya menimbulkan opini negatif tentang HMI back to kampus. Misalnya, efektifkah HMI back to kampus, adakah feedback yang terjadi setelah kader didistribusikan? Contoh kasus yang paling menggelitik adalah sentimen pribadi yang terjadi antar kader.
Alangkah lucunya bila tersendatnya upaya HMI back to kampus terjadi hanya karena sentimen pribadi, dan yang lebih lucu lagi bila semua itu terjadi hanya karena egosentris seorang kader untuk mewujudkan obsesinya. Ironis sekali, bukan? Kalau begini terus, maka konsep atau wacana HMI back to kampus hanyalah sebuah mimpi atau omong kosong belaka.
Kasus-kasus di atas merupakan beberapa contoh dari sekian banyak kasus pergeseran nilai-nilai independensi, intelektualitas lima insan cita, profesionalitas kader, dan lain sebagainya. Singkatnya, kasus-kasus tersebut memberikan indikasi adanya pergeseran budaya dalam HMI.
Kalau keadaannya begini, bagaimana kita bisa mewujudkan konsep HMI back to Kampus kalau ternyata kualitas dan mental kader HMI sangat feminis seperti ini. Apalagi kalau harus dihadapkan pada peta permasalahan umat saat ini, bisa-bisa tekor. Ternyata, penjajahan yang dilakukan oleh kaum barat sudah sangat parah. Sampai-sampai bisa menanamkan ideologi-ideologi dan konsep kapitalis, materalis, dan yang paling parah serta menggelitik adalah feminis. Saat ini, mungkin itulah anti-ideologi yang sedang ditanamkan pada masyarakat, khususnya kader HMI yaitu, kapitalis, materialis, dan feminis.
Sebegitu materialisnya, sampai-sampai bisa menghilangkan nilai-nilai lima insan cita yang menjadi pedoman seorang kader, dan sebegitu feminisnya sampai-sampai sentimen pribadi mengacaukan proses realisasi HMI back to kampus. Alangkah mirisnya saudara-saudara, ternyata semua itu bisa terjadi dan ada di HMI!! Apakah kita harus mengasah kembali kepekaan kita pada lingkungan? Apakah kita harus memperbaiki pola pengkaderan? Apakah kita harus mencari tahu siapa yang salah dan yang benar? Dan, apakah kita harus kehilangan generasi HMI? Naudzubillah…..
Mari bersama-sama kita benahi permasalahan ini, tunjukkan militansi kita sebagai seorang kader, realisasikan HMI back to kampus sesuai dengan yang diharapkan, dan meniatkan ibadah untuk setiap hal yang kita lakukan menuju tercapainya umat yang tengah. Tidak perlu memikirkan yang besar-besar dulu, cukup dimulai dari ruang lingkup terkecil dan terdekat dahulu yaitu, diri sendiri dan komisariat tercinta.
Bila kita menyadari bad impact dari kasus-kasus di atas, insyaallah kita bisa membuat sebuah pembaharuan pola pengkaderan untuk melestarikan kehidupan kader di HMI sehingga, tidak akan ada yang namanya lost generation!!! Hidup HMI!!!!!!!!!!
YAKUSA!!!!!!!!
[yudha]

Sebuah Impian

Di tanganmu tumpuan harapan penerus cita-cita
Membebaskan negara tercinta dari orang-orang yang serakah
Curahkan daya dan upaya jiwa raga dan pikiran
Demi rakyat, bangsa dan negara tuk ridho Allah yang Kuasa
Tekadmu bulatkan semangatmu kobarkan
Menuju sebuah impian
Menjalin ikatan membangun persatuan
Himpunan mahasiswa Islam

Darah Juang

Di sini negri kami tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya, tanah kami subur Tuan..
Di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
untuk membebaskan rakyat..

Kado Untuk Sang Hijau Hitam

Yogyakarta, 14 Rabiul Awal 1366H bertepatan tanggal 5 Pebruari 1947 Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa STI lainnya mendirikan sebuah organisasi yang sekarang merupakan organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Himpunan mahasiswa Islam (HmI) yang pada hari ini telah berusia 61 tahun. Artinya, HmI sudah menginjak masa dewasa atau matang yang tidak bisa dipungkiri kesalahan dan kekurangan dalam proses tetap terjadi sepanjang proses itu terus berjalan.
Sebagai kader Sang Hijau Hitam sudah selayaknya pada hari ini mulai melakukan introspeksi diri. Seberapa jauh tujuan HmI tercapai? Apa saja yang telah kita lakukan untuk HmI?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang layak direnungkan oleh setiap kader HmI. Bukan menghitung keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai, namun mencari seberapa besar kealpaan yang terjadi untuk lebih mawas diri. Hal ini tentunya agar dapat diformulasikan ke dalam strategi proses kedepan dengan tuntutan hari esok yang lebih baik.
”... Allah akan mengangkat (meninggikan) kualitas (derajat) orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Dan Allah mengetui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadalah ayat 11).
Demi masa depan HmI yang cerah, diperlukan pembentukan kader yang berkualitas sehingga mampu untuk menjadi kader HmI yang berkualitas 5 insan cita. Agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih cerah dari hari ini.
Lalu kado apa yang kita berikan untuk Sang Hijau Hitam?
Dirgahayu HmI..
Yakin Usaha Sampai...
[by.tehfairiez]

Rekonstruksi Gerakan Intelektual Mahasiswa

Siapapun tidak akan memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menghadirkan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting. Siapapun dia tidak bisa memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menjadikan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting. Setumpuk predikat filosofis pun disandang mahasiswa; mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), control social (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan potensial (iron stock)generasi estapet bangsa,dan sebagainya walaupun akhirnya seiring dengan semakin terkikisnya vitalitas mahasiswa, walau sering kali predikat itu menjadi romantisme belaka yang selalu dibicarakan di dikantin-kantin kampus.
Yang akhirnya menimbulkan pertanyaan mengapa gerakan kaum intelektual ini seolah belum menemukan pola baku dalam melawan segala tirani dan ketidakadilan para penguasa yang semakin hari semakin tidak memihak kepada rakyat. Bahkan penindasan ini dilakukan oleh para penguasa yang katanya kaum religius dan taat pada agama..? kaitanya dengan demokrasi, memang kita akan melihat bahwa mahasiswa adalah bagian dari komponen yang telah dimasukkan kedalam system pembodohan yang dilakukan dikampus yang mengatasnamakan demokrasi. Mereka hamper sepakat bahwa demokrasi adalah ide yang baik diambil untuk diambil hingga akhirnya menjadi nilai-nilai yang mewarnai perjuangannya. Sesungguhnya demokrasi yang kita terapkan di negri ini adalah system demokrasi yang telah usang dan takterpakai lagi di dunia barat namun masih banyak kaum intelektual kampus yang masih latahdengan selalu membanggakan demokrasi yang telah usang tersebut yang menjadi ironis dan menyedihkan adalah masih ada kelompak mahasiswa yang membangun gerakan pendukung penguasa yang tirani bahkan ada organisasi mahasiswa yang tanpa sadar telah dijadikan alat gerakan partaiyang lalgi lagi mengatasnamakan rakyat dan demokrasi. Memang sangat menyedihkan!!!!!!!!!.....
Akibatnya banyak mahasiswa yang terjebak dan lupa akan arah perjuangan mahasiswa yang sesungguhnya. Sudah seharusnya mahasiswa kembali kepada garis arah perjuangan mahasiswa yang sebenarnya (idealis) yang harus selalu dipertahankan. Mai kaea-kawan mahasiswa kita kembali lagi lanjutkan khitah perjuangan kita yang sebenarnya. Untuk itu kita dapat kembalipada garis perjuangan maka kita harus memperhatikan beberapa hal yang harus kembali menjadi acuan kita bersama :
Sebagai kaum intelektual organic maka kita harusmemiliki ide-ide yang jelas dan mudah dimengerti oleh banyak orang. Dalam artian ide-ide yang kita keluarkan telah melalui proses studi kelayakakn dan kesimpulan berdasarkan sudut pandang studi yang kita miliki dan berbagai pendekatan berbagai ilmu pengetahuan yang mampu memperkuat ide-ide yang akan kita lontarkan. Kita semua menyadari bahwa dikampus ini kita ditempah untuk dilahirakan menjadi insane-insan akademis (intelektual). Ternyata prinsip ini sudah hamper tidak mampu lagi menampilkan diri sebagai insane yang cerdas, namun lebih bersifat emosional tanpa konseptual. Untuk berhasil dalam sebuah gerakan maka kita harus berfikir dengan kecerdasa. Sebagaimana firman Allah”manusia tidak mampu menembus langit dan bumi kecuali bagi mereka yang berfikir (Q.S Ar Rahman.33)” Oleh karna itu mari kita kembali mengasah kemampuean ita untuk melahirkan ide-ide baru untuk sebuah gerakan intelektual guna melawan tirani para penguasa yang kian hari semakin tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Kita sebagai mahasiswa harus mampu melahirkan (dibaca:insane pencipta) metode gerakan yang reformatif. Kita sebagai bagian dari gerakan harus mampu melihat akar permasalahan dengan jeli dan harus melahirkan gerakan yang dilancarkan yang sifatnya memberikan solutif. Karna ketika kita melihat ketidakadilan tidak mungkin hanya menyerukan tegakkan keadilan dan bersihkan aparat pemerintah dari KKN. Tetapi kita harus mampu menggali akar permasalahan yang sebenarnya. K ita sebagai kaum intelektual yang melahirkan ide-ide cemerlang harus mampu membuat sebuah metode untuk menggali akr permasalahan dan menentukan titik penyebab permasahan sebenarnya. Krna kita semua telah mengetahui bahwa diwilayah penguasa (eksekutif, legislative, dam yudikatif) telah terbentuk lingkara setan ang telah melahirkan sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. Artinya hanya rakyat yang saat inimenjadi objek penghisapa para penguasa. Kita sebagai bagian dari pergerekan mahasiswa harus mampu melahirkan metode untuk memperjuangkan rakyat kita yang telah tertindas dan dirampas haknya.
Mahasiswa yang merupakan bagian dari gerakan intelektual harus rela dan mampu mengabdikan(dibaca:insane pengabdi) pengetahuannya demi keberpihakkan kepada kepentingan rakyat. Sebagaimana tercantum didalam tri dharma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian. Pengabdian disini jangan kita artikan secara sempit tetapi pengabdian disini berrti kita harus mampu menyumbangkan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk kepentingan rakyat. Pengetahuan yang kita miliki harus mampu memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi didalam masyarakat. Kita sebagai kaum intelektual harus mampu menyumbangkan kemampuan kita untuk memberikan solusi yang harus rela bergerak untuk memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin tertindas oleh penguasa.
Kita harus menghancurkan gerakan yang bersufat pragmatis. Kiat harus melahirkan gerakan yang berlandaskan pada kebenaran universal (idealisme). Idealisme sebagian gerakan mahasiswa tidak lagi muncul dalam pemikiran-pemikirannya. Idealisme itu seolah tenggelam ditengah kegalauan kehidupan in. Berbenturan dengan kebutuhan perut, berbenturan dengan ketidak berdayaan diri dalam menghadapi arogansi penguasa atau berbenturan dangan mayoritas suara yang menyesatkan. Sehingga melahirkan geraka-gerakan yang mengutamakan kepentingan perut. Biasanya gerakan pragmatis selalu menjustifikasi sebuah kebenaran adalah milik mereka bahkan tanpa sadar mereka telah ikut menghisap rakyat yang kian tertindas. Mari bersama kita perkuat barisan untuk membangungerakan yang berlandaskan pada kebenaran universal dan berpihak pada kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa kita. Mengapa kita berani menyuarakan suara kebenaran dan berpihak pada kepentingan rakyat bukankah Allah Swt berfirman”sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili (menghukumi) antara manusia dengan apa yang telah Allh wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang khianat”(QS. An-Nisa’[4]:105).
Gerakan mahasiswa sering tidak memiliki idiologi yang jelas. Idiologi merupakan pandangan hidup yang menyeluruh yang menelurkan sebuah system dan arah bagi kehidupan sebuah gerakan. Inilah yang menjadi persoalan mendasar pada saat ini. Banyak gerakan-gerakan mahasiswa tidak lagi dilandasi idiologi yang jelas dan benar. Sehingga banyak gerakan yang dibangun dengan ide-ide yang serabutan seperti anak kecil yang baru mengenal barang baru yang tidak tahu untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Mengapa demikian..? karma pemikiran tidak lagi berhubungan dengan lingkungan masyarakat, kepribadian dan sejarah pergerakan mahasiswa serta tidak lagi berlandaskan pada idiologi yang jelas dan benar akan keberpihakkannya pada rakyat. Oleh karma iu kita sebagai kaum intelektual melakukan pergerakan harus berlandaskan pada idiologi yang jeas dan benar. Karna apa yang kita perjuangkan harus mampu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Kesimpulan
Mari kita sebagai mahasiswa sama-sama menyadari bahwa kita akan menjadi saksi kehancuran dari negri ini bila kita membiarkan system yang bobrok ini. Tidak cukup kita hanya dengan membincangkannya diwarung-warung tetapi kita harus bergerak dna turun langsung memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kita telah sama-sama mengetahui persoalan yang dihadapi daerah ini dimana para penguasa memiliki keberpihakkan kepada kepentingan rakyat banyak. Melainkan hanya melahirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya hanya mengutamakan kepentingan kelompok penguasa. Sepertinya para penguasa akan sadar dan hanya akan tunduk pada kekuatan parlemen jalanan. Sebagai kekuatan kaum intelektual sudah sewajarnya kita kembali bergerak demi keberpihakkan pada kepentingan rakyat
Penulis adalah mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fisip UNIB dan tim Gerakan Solidaritas Bengkulu (GERSIB), Presiden Mahasiswa UNIB terpelih “Dempo Xler”

TANTANGAN NYATA UMAT ISLAM

Dewasa ini umat Islam semakin rutin dihadapkan dengan masalah-masalah sulit yang banyak menguras energinya. Masalah-masalah sulit yang menimpa umat Islam tersebut dapatlah secara sederhana kita kelompokkan ke dalam dua masalah mendasar: masalah yang bersifat insidental dan masalah yang bersifat kronis. Yang insidental misalnya terorisme dan kemudian ditambah belakangan muncul pula isu aliran sesat.
Sangat menyakitkan, jika kedua isu insidental ini telah berhasil mencoreng wajah umat Islam. Sehingga jika orang membicarakan isu terorisme dan aliran sesat segeralah terasosiasi di dalam pikiran orang bahwa umat Islam selain mempunyai sisi yang positif ternyata juga menyimpan sisi negatif. Tentulah saya tidak akan membicarakan apa motif di balik pemunculan kedua isu negatif ini; apakah untuk mendiskreditkan integritas dan kredebilitas umat Islam atau pun ada agenda lain yang terselubung di balik kedua isu tersebut.
Seperti bisanya, kemunculan isu-isu sensasional semacam itu tidaklah luput dari agenda strategis. Sudah tentu ada yang menangguk keuntungan di balik fenomena yang sungguh-sungguh tidak alamiah tersebut. Siapakah mereka dan apakah agenda besarnya, hal itu bukanlah merupakan tujuan dari tulisan kecil ini.
Dalam kesempatan tulisan ini, saya hanya ingin memaparkan bahwa ternyata hingga hari ini umat Islam tidak terlepas dari isu-isu sensasional dan negatif yang merontokkan citranya sebagai agama yang berkemajuan seperti yang telah dibangun dengan susah-payah selama ini.
Sesungguhnya isu sensasional semacam itu akan dapat dicegah jika rasionalitas berkembang baik di kalangan umat Islam. Sejujurnya kita akui betapa masih banyak kelompok umat Islam terperosok ke dalam fanatisme buta dan taklid yang kaku terhadap aliran-aliran pemikiran yang dianutnya. Fanatisme buta dan taklid yang kaku inilah yang menjadi lahan empuk bagi berkembangnya penyimpangan-penyimpangan dan tindakan-tindakan terorisme.


Relevansi HMI
Salah satu relevansi kehadiran ormas semacam HMI adalah untuk menjawab tantangan-tantangan klasik semcam ini. Disebut klasik, sebab fenomena terorisme dan aliran sesat yang mengait-kaitkan diri dengan Islam sudah lama muncul dalam halaman-halaman sejarah. Di Indonesia sendiri misalnya, pada tahun 1980-an telah dikenal kelompok semacam Komando Jihad, Teror Imron, dan sebagainya. Sedangkan untuk isu aliran sesat, dahulu sudah dikenal pula kelompok inkar sunnah.
Sejauh ini, HMI di dalam melaksanakan program-program pelatihannya, terbebas dari semangat fanatisme buta dan taklid yang kaku kepada pemimpin. Di saat yang sama, kepada kader-kadernya ditanamkan semangat rasionalitas yang tinggi di dalam memahami teks-teks wahyu, meskipun tidak sampai jatuh ke dalam kubangan rasionalisme liberal. HMI mempercayai, berislam dengan mengaktifkan akal sama pentingnya dengan menalar dengan tuntunan Islam. Di sinilah kuncinya agar selamat dari tipu daya atas nama Islam maupun atas nama kebebasan berpikir.
Oleh karena itu, dengan adanya tantangan isu terorisme dan aliran sesat ini, sepatutnyalah menyadarkan komunitas HMI untuk terlibat aktif memberikan penangkal bagi umat agar tidak terjatuh ke dalam dua kutub ekstrim tersebut: beriman dengan taklid yang kaku hingga menyuburkan aksi terorisme dan aliran sesat dan berpikir sebebas-bebasnya hingga meninggalkan moralitas agama. Penangkal itu adalah berislam dengan mengaktifkan akal pikiran dan pada saat yang sama berpikir dengan tuntunan Islam. Tercapainya kedua kondisi ini akan mewujudkan kondisi beragama yang seimbang.
Selain masalah insidental yang disebut di atas, terdapat pula masalah kronis yang menyelimuti umat Islam dewasa ini, yaitu kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan tidak selalu paralel dengan tidak punya ijazah sekolah formal. Tetapi yang lebih tepat adalah lumpuhnya potensi nalar di dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia.
Kebodohan dan kemiskinan ini laksana dua sisi mata uang. Kebodohan sudah lumrah mengakibatkan kemiskinan. Demikian pun kemiskinan mengakibatkan kebodohan. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana biaya pendidikan begitu mahal, maka semakin nyatalah bagi orang miskin seolah-olah telah ditakdirkan berada di dalam kelas sosial yang bodoh. Sementara kita sama-sama tahu, untuk meningkatkan derajat ekonomi seseorang pada hari ini berbanding lurus dengan pendidikan yang dia miliki.
Dua masalah sosial kronis tersebut menurut hemat saya setidaknya disebabkan oleh dua faktor: faktor struktural dan non struktural. Faktor struktural misalnya ketertutupan akses ke sumber-sumber ekonomi, kekuasaan, informasi, pengetahuan, dan pendidikan. Tertutupnya akses tersebut di antaranya disebabkan oleh karena kelas yang berkuasa ingin menikmati lebih lama kondisi-kondisi status quo yang menguntungkan mereka. Adalah sulit untuk mengharapkan kelas yang berkuasa memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengakses sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan yang mereka miliki. Pembukaan akses bagi masyarakat miskin hanya bisa terjadi jika kelas yang berkuasa dirombak.
Kedua, faktor non struktural. Tidak dapat dipungkiri, beberapa ciri jiwa sosial masyarakat kita juga menyumbang bagi pemapanan posisi mereka dalam kelas terpinggirkan. Sikap toleransi terhadap penderitaan yang mereka hadapi (toleransi yang negatif) dan mengutamakan harmoni dari pada menuntut keadilan dan persamaan telah membuat mereka susah untuk didorong lebih maju di dalam menuntut hak-hak asasinya.
Data Maret 2006 menunjukkan sebanyak 39,5 juta (17,75%) penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan pada tahun sebelumnya (2005), jumlah penduduk miskin sebanyak 35,10 juta jiwa (15,97%). Dan apabila kita perhatikan, tren dari data kemiskinan tersebut setiap tahun terus meningkat. Dari tahun 2005 ke tahun 2006 saja terdapat peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,95 juta jiwa.

Menuju Solusi
Mendapatkan kenyataan itu, memang sungguh menyakitkan hati. Akan tetapi hendaknya kenyataan tersebut tidak menimbulkan rasa putus asa bagi penggiat-penggiat perubahan. Masih banyak jalan keluar yang tersedia untuk mendorong berlangsungnya perubahan.
Di antara jalan keluar yang dapat diambil adalah dengan melancarkan program pendidikan yang bermuatan penyadaran dan berorientasi masa depan. Dalam hal ini, sudah sepatutnya institusi-institusi pendidikan yang dikelola oleh ormas-ormas Islam melakukan reformasi, minimum reformasi kurikulum.
Tentu ada pertanyaan, mengapa dibebankan kepada institusi pendidikan? Sebab menurut pendapat saya, bagian yang paling dominan membentuk secara langsung perkembangan diri seseorang terletak pada institusi pendidikan. Sedangkan panduan dan isi yang digunakan oleh guru di dalam membentuk individu tersebut adalah kurikulum.
Oleh karena itu, reformasi kurikulum setidaknya dapat menampung misi penyadaran posisi umat Islam yang lemah dan pembekalan keterampilan hidup praktis. Selama ini, nyaris dapat dikatakan, institusi-institusi pendidikan Islam hanya mereformasi dirinya dengan cara mengadopsi sistem dan managemen pendidikan Barat yang memang sudah jauh berkembang. Cara reformasi semacam itu samalah artinya mempermanenkan umat Islam berada di belakang kemajuan yang dicapai oleh umat lain. (H-rey)

ROMANTIKA, DIALEKTIKA DAN POLITIKA PERGERAKAN HMI

Dunia perjuangan memang penuh dengan liku-liku yang menarik untuk dinikmati baik dari dinamikanya ataupun intrik-intrik yang ada didalamnya. Perjuangan identik dengan pergerakan yang kedua kata tersebut hampir tidak ada bedanya, perjuangan tanpa adanya pergerakan adalah tidak mungkin(Imposible) atau dengan kata lain pergerakan adalah alat untuk berjuang karena hanya dengan bergerak perjuanagan dapat dilakukan bukan dengan diam atau bergerak tapi ditempat.
Bebicara tentang romantika, dialektika dan politika kehidupan HMI tentunya bukanlah hal baru yang dikaji oleh para kadernya. Sebagai insane akademis yang mempunyai jiwa pencipta dan pengabdi yang dikendalikan oleh ajaran paling hakiki (islam) dan mempunyai tujuan yang mulia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT kader HMI tidak pernah ketinggalan dari berbagai permalahan sehingga tidak heran HMI menjadi organisasi besar yang menganggap dirinya menjadi problem solver setiap masalah.
Tidak perlu melantur memang kalau membicarakan HMI, cukup hanya dengan membicarakan 3 hal yaitu cinta, diskusi pembenaran dan politik. Tiga hal tersebut adalah tema utama kehidupan berHMI kalau tidak percaya boleh dichek and recheck disetiap sudut kehidupan HMI. Romantika ada kaitannya dengan cinta atau bisa dikatakan sebagai sesuatu yang indah. “HMI memang indah” mungkin itulah salah satu ungkapan yang bias saja terlontar baik dari dari kadernya sendiri ataupun para pengamat kader. Dari sisi historis HMI pernah mangalami masa-masa yang indah, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan HMI berhasil melahirkan intelektual-intelektual islam berkualaitas yang pemikiran-pemikirannya mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah budaya rasionalisme yang sering diagung agungkan oleh sebagian masyarakat di Indonesia.
Dari segi kehidupan sehari-hari pun HMI sangat Romantik baik kehidupan organisasi maupun kehidupan para anggotanya bahkan para alumninya. Saat sekarang yang paling menonjol dan patut diacungi dua jempol adalah kecintaan para kader Hmi yang masih bertahan untuk mempertahankan eksistensi dan regenerasi organisasi HMI walaupun tidak sedikit orang mencibirkan mulutnya menganggap bahwa HMI telah mati, HMi tidak mampu lagi melahirkan intelektual-intelektual muslim, pokoknya HMI tidak bagus lagi, menjadi beban sejarah dan Negara, dan ynag paling ekstrim adalah “BUBARKAN HMI SEKARANG ATAU BESOK!!!”. Ironis memang tapi sebaik baik orang bijak adalah yang bermuhasabah dan optimis menyongsong hari depan mungkin ungpan yang pas adalah biarkan “…..” menggonggong yang waras jalan terus atau istilah jawanya “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang kalau di Indonesiakan maju terus pantang mundur.
Dari berbagai diskusi-diskusi ringan para kadernya diberbagai bawah pohon(jambu, beringin,jengkol,sawit,dll) menghasilakan pemikiran baru mengenai proses regenerasi di HMI, salah satunya dengan konsep cinta. Dalam hal ini yang diasumsikan bahwa cinta adalah pengorbanan dan penghambaan. Dari asumsi ini hal yang bias dilakukan adalah dengan dengan menumbuhkan rasa cinta anggota hmi terhadap organisasinya. Pengorbanan dan penghambaan akan menghasiklan konsep militan yang akan berpuncakkan pada output yang berkualitas yangv mampu bermanfaat bagi umat. Kalau dilihat dari proses pengkaderannya sendiri hal utama yang menjadi maslah adalah rasa memiliki para anggotanaya. Memiliki teman maupun memiliki lawan. Atau bisa dikatan bahwa anggota hmi tidalk lagi saling mencintai, tidak lagi ada rasa rela berkorban tanpa pamrih terhadap anggota ynag lain. Sebagian angotta hmi hanya memikirkan kepentingan atau obsesi dirinya sendiri yang kadang menyakiti hatipun manjadi halal untuk dilakukan. Sekali lagi cinta sudah hilang diterpa badai kehidupan dan gilasan roda kepentingan.
Hal optimis yang bisa dilakukan adalah dengan sedikit berdendang “badaiii pasti berlalu”,atau dengan meneriakkan slogan abadinya HMI yaitu yakin usaha sampai atau biasa disingkat “YAKUSA”. Cinta perlu dibudayakan dan dilestarikan, mencintai bukanlah sebuah dosa, mencintai akan menciptakan senyum, senyum tidak dosa, senyum bisa menghasilkan pahala, pahala bukan dosa, pahala bisa membawa ke surga, kesurga bukan karena dosa. Saling mencintai juga dianjurkan bukan malah ditentang atau digosipkan. Dengan saling mencintai akan membawa kepercayaan, dengan kepercayaan membawakan persatuan, dengan bersatu tidak mustahil tujuan yang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dapat trercapai. Kita pakai istilah sapu lidi sajalah “satu lidi tentunya lebih lemah dari dua lidi, dua lidi tentunya lebih lemah dari seratus lidi” ya sudahlah …..mari kita saling mencintai, berdamai dan tersenyum..he…he..he..
www.iboed.wordpress.com/kamis,17 januari 2008 pukul 11.30 p.m.

Ketika Amanah Terbengkalai Ego

Tepat pukul 5.00 dini hari selepas azan subuh aku berikrar dengan disaksikan oleh Sang Mengetahui.. Berikrar untuk setia dan mematuhi konstitusi yang ada. Berikrar untuk mewujudkan tujuan organisasi menuju insan cita. dan yang terpenting berikrar untuk menjalankan kewajiban seorang muslim dan muslimah sejati.
Seiring berjalannya waktu yang tidak selalu mulus kita melakukan beberapa kealpaan baik itu besar ataupun kecil. Hal ini sangat lumrah dimana memang fitrah manusia yang melakukan salah. namun itu bukan akhir segalanya. ketika kesalahan yang kita perbuat hanya berhenti sebagai sebuah kesalahan, itu akan menjadikan kita orang yang kerdil. terlepas kita menyadarinya ataupun tidak. Untuk terus berjalan kedepan, jejak langkah harus kita tinggalkan. namun ketika jejak yang tercipta itu salah arah, kita harus memperbaikinya dengan taubatan nasuha dan berikhtiar untuk hari depan yang lebih baik.
sebagai manusia biasa kita memiliki amanah untuk menjadi khalifah fil ardh dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika menjadi seorang pemimpin amanah yang diemban pun semakin berat. Ada banyak kategori pemimpin, yaitu pemimpin diri sendiri, pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin negara dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin tentulah memiliki sifat-sitaf kepemimpinan yang baik yang diharapkan mampu membawa wadah yang menaunginya pada sebuah kesuksesan. namu kembali lagi pada fitrahnya manusia memiliki egoisme masing-masing yang kadarnya tentu berbeda-beda pada setiap orang.

Sebagai seorang muslim kita tentu menyadari bahwa sebuah amanah apapun itu bentuknya harus dijalani dan dipertanggung-jawabkan suatu hari nanti. Konflik hadir untuk mendewasakan diri dan menyempurnakan proses yang kita jalani. Suatu musibah jika kita terbiasa mengedepankan egoisme dan meninggalkan amanah. Terlebih lagi jika ego tersebut mengkambing hitamkan konflik untuk tidak menjalankan amanah yang sudah dipercayakan.
[by.tehfairiez]

Menilai Sebuah Pergerakan dalam Eksistensi Seorang Kader

[Oleh: Medio Yulistio]

Mencari harapan untuk perubahan kearah kemajuan di Provinsi Bengkulu mungkin teriakan dan nyanyian perjuangan mahasiswa masih bisa dianggap dan dinilai sebagai sarana untuk mengawal perubahan-perubahan tersebut. Dengan meneriakkan dan mengusung sebuah kebenaran untuk umat. Kondisi dan realitas pembangunan Bengkulu yang dinilai stagnan dan mungkin sebuah kemunduran yang memicu apa terjadi di provinsi tercinta ini.
Tapi……
Beberapa pertanyaan kerap kali mucul dan hal iyu sangat mengganggu. Ada sebuah pertanyaan yang saat ini memiliki bermacam-macam jawaban “apa yang mahasiswa cari sebenarnya?”. Mungkin pertanyaan itu saya katakana sepele tapi kita tidak tahu jawabannya. Meilai dari kacamata sebuah popularitas saya ingin menguak sedikit dengan beberapa pertanyaan yang timbul :
Apakah mahasiswa memang berjuang sebagai wujud fungsi, dan peran mahasiswa itu sendiri?
Apakah mahasiswa memang berjuang sebagai wujud eksistensi umat manusia sebagai makhluk sosial ?
Apakah ini memang sebuah gerakan moral?
Hari ini persoalan yang terjadi, mahasiswa tidak tahu jawaban itu sendiri. Saya teringat perkataan sang revolusioner yaitu Hariman Siregar, bahwa saat idealisme dihancurkan oleh digilasnya zaman dan kesempatan.
Kembali kepada saya dan kawan-kawan sebagai kader HMI, ada beberapa pemikiran dan pencerahan untuk kita dalam eksistensi kader. Hendaknya semua apa yang dapat kita lakukan untuk sebuah perubahan adalah benar-benar murni dari keinginan untuk sebuah perubahan, sebuah kemajuan umat dan sebuah roda kemajuan negeri tercinta ini.
Kekuatan moral yang terus kita nyanyikan diharapkan terlepas dari apapun. Tidak ada kepentingan dalam kepentingan, jauhkan semaksimal mungkin semua bentuk intervensi demi kepentingan pribadi. Sebuah niat ikhlas untuk menuju ketakwaan terhadap Allah SWT adalah kunci seorang kader menghadapi jeritan dan tangisan rakyat…
Rakyat Pasti Menang…!!!!
Yakusa….

Peran Komisariat dalam Pengkaderan

Medio Yulistio*

Himpunan mahasiswa Islam berdiri di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, bertepatan dengan 5 Februari 1947 yang dipelopori oleh Lafran Pane. tentunya ada sebuah motif atau latar belakang mengapa HMI berdiri pada masa itu, yang saya tinjau secara umum adalah kondisi politik bangsa Indonesia, kondisi umat islam, dan kondisi perguruan tinggi dan kemahasiswaan pada masa itu yang dirasakan tidak akomodatif, maka dari itu HMI mencoba mengisi kemerdekaan kearah yang lebih baik melalui proses pengkaderan untuk dapat merubah kondisi bangsa saat itu serta mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan mengembangkan agama Islam.
HMI adalah sebuah organisasi pengkaderan. Mengapa demikian, karena disini HMI mengakomodir kekuatan mahasiswa yang nantinya akan dikader untuk menjadi golongan kaum intelektual muda yang bermoral dan berhati nurani pada realitas kondisi umat yang tertindas, mahasiswa dengan sikap kritis, mahasiswa yang selalu berpandangan kedepan (future oriented), mahasiswa yang tentunya memiliki kualitas personal yang sangat baik, mahasiswa yang membawa sebuah perubahan kearah kemajuan (agent of changes) dan mahasiswa yang dapat menyuarakan kebenaran secara hakiki. Hal ini sudah terangkum jelas di dalam tujuan HMI itu sendiri, yaitu kualitas Insan Cita.
HMI telah berjalan bersama waktu dari masa kemasa. Dengan predikat sebagai organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, HMI pun telah melahirkan banyak nama-nama besar yang mengukir sejarah bangsa indonesia. Tentunya ada sebuah proses dan metode yang harus dijalani setiap kader dalam menuju hasil (output) yang diharapkan, yaitu militansi terhadap nilai kualitas insan cita. Sebenarnya, dalam proses pengkaderan tersebut, banyak indikator-indikator yang mendukung keberhasilan tersebut. Pada kesempatan kali ini, saya mencoba sedikit menyampaikan buah pemikiran tentang arti pentingnya Komisariat dalam sebuah proses pengkaderan.

Komisariat adalah bagian terkecil dari struktur kelembagaan HMI, tetapi Komisariat merupakan pemasok terbesar dalam sebuah proses Regenerasi dalam menjaga kesinambungan keberadaan HMI itu sendiri atau dengan kata lain komisariat adalah stakeholder bagi HMI. Komisariat juga merupakan pondasi kekuatan HMI. Jadi Komisariat dapat diibaratkan sebagai kertas kanvas bagi seorang pelukis.
Dalam sebuah proses perekrutan (recruitment) kader HMI dalam konteks ideal dalam wujud Latihan Kader I (basic trainning) diadakan pada tataran komisariat. Dengan wilayah teritorial yang kecil yaitu tingkat fakultas, komisariat mempunyai andil dalam proses pengkaderan HMI itu sendiri. Dimana pasca LK I, setiap kader yang telah mengikuti training tersebut untuk selanjutnya merupakan tanggung jawab Komisariat dalam proses pengkaderannya.
Komisariat adalah area pertama yang harus disentuh oleh kader HMI itu sendiri. Di sanalah pembentukan awal proses pengembangan diri didapat. Dikomisariatlah tempat pertama kali kita dapat banyak belajar dalam menemukan jati diri identitas seorang mahasiswa. Jadi komisariat sangat berperan terhadap suatu hasil nantinya dalam sebuah proses pengkaderan. Angka maksimal sepatutnya dilakukan komisariat dalam suatu proses pengkaderan.
Setiap iklim dan lingkungan juga metode yang melekat pada suatu Komisariat, secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pembentukan watak atau karakter kader didalam Komisariat. Pada tataran Komisariat, pada umumnya kita berupaya menemukan dan belajar. Di tingkat Komisariatlah yang juga berpengaruh atas eksistensi kita sebagai kader HMI, mengapa demikian, karena semua pandangan utama kita mencoba menyocokkan dengan sebuah lingkungan yang baru kita lihat, sebuah kehidupan baru yang harus kita sesuaikan. Yakni sebuah proses seleksi atas sebuah ideologi yang akan dibangun dalam busur HMI.
Kebijakan-kebijakan strategis Komisariat akan membawa kepada sebuah tabel pengaruh kepembentukan kader. Semakin baik kemampuan sebuah Komisariat dalam memformulasikan metode pengkaderan tentunya akan menghasilkan produk yang berkualitas pula. Jadi proses pengkaderan tidak bisa lepas oleh peran Komisariat. Sebuah proses pembelajaran awal, sebuah proses pemahaman tingkat dasar, baik dalam bentuk materi, dinamika dan konflik. Sebuah suasana kondusif dan efektif dalam sebuah Komisariat akan membawa kelampiran komunikasi yang efektif antara hubugan vertikal

horizontal didalam Komisariat itu sendiri. Komisariat adalah ranah kita untuk mengumpulkan bekal yang akan kita bawa berjuang. Dengan tingkat kreatifitas anggota Komisariat dalam sebuah proses pengkaderan, maka hasil dari proses pengkaderan tersebut akan berdampak positif.
Bukan hanya itu, Komisariat adalah wadah atau tempat mengakomodir kader dalam setiap aktifitas yang menunjang proses pengkaderan. Bukan hanya metode, namun sarana dan prasarana Komisariat dalam proses pengkaderan sangat dibutuhkan. Kualitas perumus kebijakan dalam Komisariat harus bisa menghasilkan sebuah proses yang baik dalam sebuah proses pengkaderan. Nilai-nilai spritual dan intelektual yang dibangun dan diciptakan dalam komisariat akan memberi sebuah pengaruh yang baik. Ditataran Komisariatlah kader mulai ditempah dan belajar untuk menjadi sosok seorang kaum intelektual. Apabila sehat suatu Komisariat, maka sehat pula kadernya.
Fenomena yang terjadi sekarang, HMI Saat ini telah mencapai sebuah titik kritis dalam proses pengkaderan yang dinilai telah mengalami kehilangan identitas, degradasi moral dan juga dapat dikatakan mencapai titik stagnant. Maka, komisariat harus tetap exist dan fokus untuk membangun HMI. Refleksi, revaluasi dan progresive dalam pengkaderan sangat dibutuhkan dalam perjalanan HMI kedepan, jadi komisariat dituntut untuk dapat bekerja ekstra dalam mengatasi permasalahan ini.
Komisariat adalah bingkai dari potret HMI secara umum dalam skala tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa Komisariat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses pengkaderan ditubuh HMI yang sangat vital sifatnya dalam laju proses continuitas pengkaderan. Apa yang ditanamkam dan diolah didalam Komisariat dalam sebuah proses Pengkaderan akan berbanding lurus terhadap hasilnya. Jadi, semakin baik out put yang dihasilkan Komisariat, maka HMI tetap survive dari masa kemasa dalam menghadapi tantangan zaman.
YAKUSA...?

[*Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Ekonomi UNIB periode 2007-2008]

Pengkaderan HmI: "Antara Harapan dan Kenyataan"

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu Organisasi Kemasyarakatan dan Kepemudaan (OKP) yang ada di Indonesia, mempunyai fungsi sebagai organisasi pengkaderan dan berperan sebagai organisasi perjuangan. Kedua hal tersebut membawa semangat yang luar biasa sehingga para kader HMI mampu memberi kontribusi yang positif dalam setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.

Fungsi HMI sebagai organisasi pengkaderan yang mampu menjadikan HMI besar di kalangan OKP yang ada di Indonesia, pada saat ini menjadi bahan telaah dalam diskusi-diskusi para kader baik junior maupun senior HMI sendiri. Fenomena kemunduran HMI sekarang yang semakin parah dirasakan adalah semakin berkurangnya minat mahasiswa dan beragama Islam untuk menjadi anggota HMI. Yang lebih parah lagi, ketika sudah menjadi kader HMI mereka tidak tahu akan status, fungsi dan perannya sebagai kader HMI. Dari diskusi-diskusi yang ada berbagai pendapat muncul yang semuanya mengkerucut pada satu pemaslahan yaitu pengakaderan HMI yang tidak sesuai harapan dan kenyataan.

Menurut salah seorang kader HMI yang tidak mau disebut namanya ”Saya sebenarnya tidak tahu untuk apa saya masuk HMI, tapi setelah saya pelajari dan saya ikuti kegiatan-kegiatan yang ada di HMI saya menjadi tahu untuk apa saya masuk HMI, tapi yang menjadi persoalan adalah saya kurang mengerti mengapa sekarang HMI tidak segagah yang dulu baik dari segi gerakan maupun segi pengkaderannya? Pernyataan tersebut merupakan keluhan umum pada semua kader HMI, untuk merasakan dan mencoba bangkit tapi tidak bisa, mungkin karena sistem dan pola pengkaderannya sudah rusak dan perlu direfresh kembali sehingga mampu membangkitkan semangat para kader HMI untuk kembali berjuang mengatasi permasalahan-permasalahan umat.
“Pengkaderan HMI sudah mencapai titik kronis, dimana dari segi pola pengkaderan HMI sendiri mengalami kemunduran dalam kualitas” ungkap salah satu senior HMI. Beliau menambahkan dengan nada kesal “permasalahan pengkaderan HMI ini adalah permasalahan kita bersama sebagai kader HMI baik anggota, pengurus maupun alumni HMI. Karena jika hal ini dibiarkan, bisa jadi umur HMI tidak akan lama lagi. Kalaupun masih ada, HMI akan tetap seperti sekarang, menjadi pelengkap sederetan organisasi-organisasi mahasiswa, tanpa mampu berbuat apa-apa dalam setiap momentum perubahan ke arah perbaikan kehidupan umat. Sebagai contoh adalah pelaksanaan Latihan Kader I (basic training), dimana kualitas materi dan pematerinya dipertanyakan?? Apakah sesuai atau tidak untuk pola pengkaderan HMI pada saat ini. Follow-up yang tidak dijalankan oleh pengurus HMI akan menambah kesempurnaan mundurnya HMI. Maka kita tidak usah heran, jika kader HMI sekarang tidak ada bedanya dengan mahasiswa biasa.”

Setelah sadar akan kekurangan maka solusi harus muncul untuk mengembalikan HMI pada Khittahnya sebagai organisasi pengkaderan dan organisasi perjuangan. Salah satunya dikenal dengan “Senior Turun Gunung”. Senior atau alumni HMI adalah salah satu komponen yang harus bertanggung jawab atas kemundurun HMI pada saat ini. Sudah saatnya mereka menurunkan gengsi untuk turun kembali membenahi kerusakan-kerusakan yang ada di HMI ini. Seperti istilah ‘kacang lupa pada kulitnya’, sekarang banyak alumni tidak lagi perduli dengan HMI, dan hanya sebagian kecil yang perduli, karena menganggap HMI-lah yang menjadikan mereka besar dan sukses.

Permasalahan pengkaderan sangat kompleks sehingga membutuhkan kerjasama yang baik antara anggota, pengurus maupun alumni HMI. Karena kalau salah satu komponen tersebut tidak maksimal, maka jelas akan tetap menghasilkan hancurnya identitas HMI dimasa yang akan datang.
YAKIN USAHA SAMPAI
(by.Simbah,M.Gk)

Selasa, 15 April 2008

iFtiTah

bismillahirrahmanirrohiim..
Assalamu'alaikum wr.wb.

Teriring salam dan do'a semoga Allah swt, senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, amiin.. amiin ya rabbal alamiin..

Alhamdulillahirabbal alamin, dengan segala kerendahan hati dan semangat kemerdekaan pemikiran kami pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Komisariat Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu periode 2007-2008 mempersembahkan media informasi komunikasi bagi kader-kader HmI untuk mempererat ukhuwah serta menuangkan pemikiran yang kritis, kongkrit dan solutif bagi kemajuan HmI dan umat.

Kami mempersilahkan bagi siapa saja yang merdeka pemikirannya untuk bergabung dan berpartisipasi aktif.

Demikianlah sedikit salam dari kami, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

billahit taufiq wal hidayah
wassalamu'alaikum wr.wb.