Saat ini, kita, khususnya kader HMI sering kali mendengar wacana HMI back to kampus, yang katanya merupakan salah satu cara untuk pendistribusian kader ke kampus sekaligus untuk mencari bibit kader yang baru. simplenya, untuk mengembalikan kembali citra HMI yang telah pudar.
Benarkah HMI mampu merealisasikan wacana tersebut? Mungkinkah wacana tersebut bisa terwujud sesuai dengan harapan? Jawabannya benar dan mungkin!!! Tanya kenapa? Karena HMI mempunyai motto YAKUSA, yakin usaha sampai, artinya tak ada kata berhenti untuk berusaha, terus dan terus, itulah militansi kader yang diharapkan!
Sekarang mari kita berkaca pada pada upaya yang dilakukan komisariat untuk merealisasikan hal tersebut. Komisariat merupakan ujung tombak pengkaderan di HMI, katanya. Artinya, tanpa komisariat tak akan pernah ada regenerasi kader di HMI. Maka dari itu, komisariat merupakan salah satu mata rantai yang sangat penting dalam HMI. Bila mata rantai ini putus maka, laju percepatan HMI akan melambat dan hampir pasti berhenti.
Untuk merealisasikan wacana HMI back to kampus diperlukan kader yang benar-benar matang. Artinya, kader tersebut memang seorang kader yang berkualitas, yang telah melewati sistematika proses kaderisasi di HMI sehingga kader tersebut siap didistribusikan ke kampus dalam rangka HMI back to kampus. Tidak hanya itu, kader-kader baru yang potensial pun seharusnya bisa langsung didistribusikan walaupun, kader tersebut belum maksimal dalam menjalani proses kaderisasi.
Paling tidak, ia bisa diberi kepercayaan untuk masuk ke dalam lingkaran sistem HMI – Kampus – HMI, sambil menyelesaikan proses pengkaderannya di HMI. Untuk itu, hendaknya proses kaderisasi ini benar-benar berjalan mulus tanpa adanya kerikil-kerikil yang bisa menghambat laju pendistribusian kader dalam rangka HMI back to kampus.
Pernah terjadi beberapa kasus di beberapa komisariat yang akhirnya menimbulkan opini negatif tentang HMI back to kampus. Misalnya, efektifkah HMI back to kampus, adakah feedback yang terjadi setelah kader didistribusikan? Contoh kasus yang paling menggelitik adalah sentimen pribadi yang terjadi antar kader.
Alangkah lucunya bila tersendatnya upaya HMI back to kampus terjadi hanya karena sentimen pribadi, dan yang lebih lucu lagi bila semua itu terjadi hanya karena egosentris seorang kader untuk mewujudkan obsesinya. Ironis sekali, bukan? Kalau begini terus, maka konsep atau wacana HMI back to kampus hanyalah sebuah mimpi atau omong kosong belaka.
Kasus-kasus di atas merupakan beberapa contoh dari sekian banyak kasus pergeseran nilai-nilai independensi, intelektualitas lima insan cita, profesionalitas kader, dan lain sebagainya. Singkatnya, kasus-kasus tersebut memberikan indikasi adanya pergeseran budaya dalam HMI.
Kalau keadaannya begini, bagaimana kita bisa mewujudkan konsep HMI back to Kampus kalau ternyata kualitas dan mental kader HMI sangat feminis seperti ini. Apalagi kalau harus dihadapkan pada peta permasalahan umat saat ini, bisa-bisa tekor. Ternyata, penjajahan yang dilakukan oleh kaum barat sudah sangat parah. Sampai-sampai bisa menanamkan ideologi-ideologi dan konsep kapitalis, materalis, dan yang paling parah serta menggelitik adalah feminis. Saat ini, mungkin itulah anti-ideologi yang sedang ditanamkan pada masyarakat, khususnya kader HMI yaitu, kapitalis, materialis, dan feminis.
Sebegitu materialisnya, sampai-sampai bisa menghilangkan nilai-nilai lima insan cita yang menjadi pedoman seorang kader, dan sebegitu feminisnya sampai-sampai sentimen pribadi mengacaukan proses realisasi HMI back to kampus. Alangkah mirisnya saudara-saudara, ternyata semua itu bisa terjadi dan ada di HMI!! Apakah kita harus mengasah kembali kepekaan kita pada lingkungan? Apakah kita harus memperbaiki pola pengkaderan? Apakah kita harus mencari tahu siapa yang salah dan yang benar? Dan, apakah kita harus kehilangan generasi HMI? Naudzubillah…..
Mari bersama-sama kita benahi permasalahan ini, tunjukkan militansi kita sebagai seorang kader, realisasikan HMI back to kampus sesuai dengan yang diharapkan, dan meniatkan ibadah untuk setiap hal yang kita lakukan menuju tercapainya umat yang tengah. Tidak perlu memikirkan yang besar-besar dulu, cukup dimulai dari ruang lingkup terkecil dan terdekat dahulu yaitu, diri sendiri dan komisariat tercinta.
Bila kita menyadari bad impact dari kasus-kasus di atas, insyaallah kita bisa membuat sebuah pembaharuan pola pengkaderan untuk melestarikan kehidupan kader di HMI sehingga, tidak akan ada yang namanya lost generation!!! Hidup HMI!!!!!!!!!!
YAKUSA!!!!!!!!
[yudha]
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar