Sabtu, 19 April 2008

ROMANTIKA, DIALEKTIKA DAN POLITIKA PERGERAKAN HMI

Dunia perjuangan memang penuh dengan liku-liku yang menarik untuk dinikmati baik dari dinamikanya ataupun intrik-intrik yang ada didalamnya. Perjuangan identik dengan pergerakan yang kedua kata tersebut hampir tidak ada bedanya, perjuangan tanpa adanya pergerakan adalah tidak mungkin(Imposible) atau dengan kata lain pergerakan adalah alat untuk berjuang karena hanya dengan bergerak perjuanagan dapat dilakukan bukan dengan diam atau bergerak tapi ditempat.
Bebicara tentang romantika, dialektika dan politika kehidupan HMI tentunya bukanlah hal baru yang dikaji oleh para kadernya. Sebagai insane akademis yang mempunyai jiwa pencipta dan pengabdi yang dikendalikan oleh ajaran paling hakiki (islam) dan mempunyai tujuan yang mulia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT kader HMI tidak pernah ketinggalan dari berbagai permalahan sehingga tidak heran HMI menjadi organisasi besar yang menganggap dirinya menjadi problem solver setiap masalah.
Tidak perlu melantur memang kalau membicarakan HMI, cukup hanya dengan membicarakan 3 hal yaitu cinta, diskusi pembenaran dan politik. Tiga hal tersebut adalah tema utama kehidupan berHMI kalau tidak percaya boleh dichek and recheck disetiap sudut kehidupan HMI. Romantika ada kaitannya dengan cinta atau bisa dikatakan sebagai sesuatu yang indah. “HMI memang indah” mungkin itulah salah satu ungkapan yang bias saja terlontar baik dari dari kadernya sendiri ataupun para pengamat kader. Dari sisi historis HMI pernah mangalami masa-masa yang indah, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan HMI berhasil melahirkan intelektual-intelektual islam berkualaitas yang pemikiran-pemikirannya mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah budaya rasionalisme yang sering diagung agungkan oleh sebagian masyarakat di Indonesia.
Dari segi kehidupan sehari-hari pun HMI sangat Romantik baik kehidupan organisasi maupun kehidupan para anggotanya bahkan para alumninya. Saat sekarang yang paling menonjol dan patut diacungi dua jempol adalah kecintaan para kader Hmi yang masih bertahan untuk mempertahankan eksistensi dan regenerasi organisasi HMI walaupun tidak sedikit orang mencibirkan mulutnya menganggap bahwa HMI telah mati, HMi tidak mampu lagi melahirkan intelektual-intelektual muslim, pokoknya HMI tidak bagus lagi, menjadi beban sejarah dan Negara, dan ynag paling ekstrim adalah “BUBARKAN HMI SEKARANG ATAU BESOK!!!”. Ironis memang tapi sebaik baik orang bijak adalah yang bermuhasabah dan optimis menyongsong hari depan mungkin ungpan yang pas adalah biarkan “…..” menggonggong yang waras jalan terus atau istilah jawanya “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang kalau di Indonesiakan maju terus pantang mundur.
Dari berbagai diskusi-diskusi ringan para kadernya diberbagai bawah pohon(jambu, beringin,jengkol,sawit,dll) menghasilakan pemikiran baru mengenai proses regenerasi di HMI, salah satunya dengan konsep cinta. Dalam hal ini yang diasumsikan bahwa cinta adalah pengorbanan dan penghambaan. Dari asumsi ini hal yang bias dilakukan adalah dengan dengan menumbuhkan rasa cinta anggota hmi terhadap organisasinya. Pengorbanan dan penghambaan akan menghasiklan konsep militan yang akan berpuncakkan pada output yang berkualitas yangv mampu bermanfaat bagi umat. Kalau dilihat dari proses pengkaderannya sendiri hal utama yang menjadi maslah adalah rasa memiliki para anggotanaya. Memiliki teman maupun memiliki lawan. Atau bisa dikatan bahwa anggota hmi tidalk lagi saling mencintai, tidak lagi ada rasa rela berkorban tanpa pamrih terhadap anggota ynag lain. Sebagian angotta hmi hanya memikirkan kepentingan atau obsesi dirinya sendiri yang kadang menyakiti hatipun manjadi halal untuk dilakukan. Sekali lagi cinta sudah hilang diterpa badai kehidupan dan gilasan roda kepentingan.
Hal optimis yang bisa dilakukan adalah dengan sedikit berdendang “badaiii pasti berlalu”,atau dengan meneriakkan slogan abadinya HMI yaitu yakin usaha sampai atau biasa disingkat “YAKUSA”. Cinta perlu dibudayakan dan dilestarikan, mencintai bukanlah sebuah dosa, mencintai akan menciptakan senyum, senyum tidak dosa, senyum bisa menghasilkan pahala, pahala bukan dosa, pahala bisa membawa ke surga, kesurga bukan karena dosa. Saling mencintai juga dianjurkan bukan malah ditentang atau digosipkan. Dengan saling mencintai akan membawa kepercayaan, dengan kepercayaan membawakan persatuan, dengan bersatu tidak mustahil tujuan yang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dapat trercapai. Kita pakai istilah sapu lidi sajalah “satu lidi tentunya lebih lemah dari dua lidi, dua lidi tentunya lebih lemah dari seratus lidi” ya sudahlah …..mari kita saling mencintai, berdamai dan tersenyum..he…he..he..
www.iboed.wordpress.com/kamis,17 januari 2008 pukul 11.30 p.m.

Tidak ada komentar: