Terminologi ?suksesi? atau lazim disebut pergantian ketua Umum, bagi kalangan HMI tentunya bukan lagi istilah yang asing dalam kosakata para pegiat Kongres HMI. Lumrahnya istilah suksesi yang diterjemahkan sebagai tindakan mengganti ketua umum. Dukung dan tidak mendukung kerap kali menjadi wacana yang menguat seputar sosok pengganti ketua umum yang menjadi fokus dalam arena Kongres HMI. Apalagi jika sosok kandidat identik dengan proses mobilisasi vertikal yang sarat dengan permainan "UANG".
Dalam kongres HMI ke-26 di Palembang wacana money poltic yang dilakukan oleh kandidat tertentu masih mencuat, dan bagi beberapa kalangan ini pembelajaran buruk bagi sebuah organisasi yang selama ini identik sebagai laboratorium kader bangsa.
Pada hal jika ditilik kembali kebelakang, sejarah mencatat bahwa sudah menjadi semacam prototipe bagi HMI, dimana gagasan-gagasan monumentalnya kerap melampaui pikiran zaman yang sedang bergulir, ide-ide HMI selalu futuristik dan memberikan pilihan alternatif solusi. Karena pola pikir yang konstruktif inilah sehingga kerap kali HMI dan kader-kadernya mengambil tempat yang strategis dalam kelompok-kelompok pembaharuan. Namun sayangnya prototipe HMI yang bagus ini tergerus ke dasar parit pragmatisme oleh sekelompok orang atau individu yang menganut paham "Jual Beli" dalam memuluskan pertarungan politiknya. Apalagi pola ini diterapkan pada organisasi yang kulturnya tidak bisa membenarkan "Jual Beli".
Istilah Jual Beli ini mengarah pada Fenomena jalan instan menuju kursi ketua Umum PBHMI dengan menggunakan kekuatan UANG, pola ini memang bergulir seiring dengan berkembangnya budaya pragmatis dan instant thingking. Bagi beberapa kalangan atau kader HMI yang tidak terlalu menganggap penting sebuah proses dan kapasitas memang memilih jalan pintas mencapai puncak kepemimpinan HMI dengan mengandalkan dukungan uang.
Kelompok yang mengedepankan cara berpikir komersial dan money oriented di HMI memiliki ciri yang sangat kapitalis. Dalam membangun jaringan dapat ditebak sejak awal jaringan yang dibangun adalah jaringan yang membuka akses pada pemegang kapital dan pemangku kepentingan politik.
Mereka juga tidak begitu menonjol dalam berbagai hal, akan tetapi memiliki akses ke komunitas pragmatis. HMI dan infrastrukturnya bagi mereka dapat digadaikan dengan janji dan komitmen yang sudah bisa ketebak akan mencederai independensi HMI. Kalau mengacu pada istilah "Tidak ada yang gratisan", maka dukungan logistik yang bagitu royal dikeluarkan oleh para founding dan spekulan politik kepada " Para kandidat ketua Umum PBHMI pasti dibarengi dengan imbalan komitmen politik yang tentu sulit diterima akal sehat organisasi. Karena sudah pasti HMI akan digadaikan.
Sebut saja misalnya secara tedeng aling-aling dapat kita katakan bahwa tercium aroma tidak sedap dalam arena kongres HMI ke-26 di palembang, dimana beberapa kandidat menurut beberapa sumber mendapat bantuan yang tidak sedikit dalam menopang pertarungannya di Kongres HMI. Ada yang mendapat bantuan Ratusan tiket pesawat pulang pergi Jakarta Palembang, ada yang mendapatkan uang kes ratusan juta, bahkan ada yang ditengarai menggunakan Uang Palsu dalam transaksi jual beli cabang. Sebelum kita lanjutkan mari kita beristigfar ramai-ramai, sebab yakin saja jika budaya pragmatis dan materialistis seperti ini yang kini menggejala dalam pola pikir HMI, maka kematian dan kebangkrutan organisasi HMI tidaqk sulit diprediksi kapan kematiannya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar