Dewasa ini umat Islam semakin rutin dihadapkan dengan masalah-masalah sulit yang banyak menguras energinya. Masalah-masalah sulit yang menimpa umat Islam tersebut dapatlah secara sederhana kita kelompokkan ke dalam dua masalah mendasar: masalah yang bersifat insidental dan masalah yang bersifat kronis. Yang insidental misalnya terorisme dan kemudian ditambah belakangan muncul pula isu aliran sesat.
Sangat menyakitkan, jika kedua isu insidental ini telah berhasil mencoreng wajah umat Islam. Sehingga jika orang membicarakan isu terorisme dan aliran sesat segeralah terasosiasi di dalam pikiran orang bahwa umat Islam selain mempunyai sisi yang positif ternyata juga menyimpan sisi negatif. Tentulah saya tidak akan membicarakan apa motif di balik pemunculan kedua isu negatif ini; apakah untuk mendiskreditkan integritas dan kredebilitas umat Islam atau pun ada agenda lain yang terselubung di balik kedua isu tersebut.
Seperti bisanya, kemunculan isu-isu sensasional semacam itu tidaklah luput dari agenda strategis. Sudah tentu ada yang menangguk keuntungan di balik fenomena yang sungguh-sungguh tidak alamiah tersebut. Siapakah mereka dan apakah agenda besarnya, hal itu bukanlah merupakan tujuan dari tulisan kecil ini.
Dalam kesempatan tulisan ini, saya hanya ingin memaparkan bahwa ternyata hingga hari ini umat Islam tidak terlepas dari isu-isu sensasional dan negatif yang merontokkan citranya sebagai agama yang berkemajuan seperti yang telah dibangun dengan susah-payah selama ini.
Sesungguhnya isu sensasional semacam itu akan dapat dicegah jika rasionalitas berkembang baik di kalangan umat Islam. Sejujurnya kita akui betapa masih banyak kelompok umat Islam terperosok ke dalam fanatisme buta dan taklid yang kaku terhadap aliran-aliran pemikiran yang dianutnya. Fanatisme buta dan taklid yang kaku inilah yang menjadi lahan empuk bagi berkembangnya penyimpangan-penyimpangan dan tindakan-tindakan terorisme.
Relevansi HMI
Salah satu relevansi kehadiran ormas semacam HMI adalah untuk menjawab tantangan-tantangan klasik semcam ini. Disebut klasik, sebab fenomena terorisme dan aliran sesat yang mengait-kaitkan diri dengan Islam sudah lama muncul dalam halaman-halaman sejarah. Di Indonesia sendiri misalnya, pada tahun 1980-an telah dikenal kelompok semacam Komando Jihad, Teror Imron, dan sebagainya. Sedangkan untuk isu aliran sesat, dahulu sudah dikenal pula kelompok inkar sunnah.
Sejauh ini, HMI di dalam melaksanakan program-program pelatihannya, terbebas dari semangat fanatisme buta dan taklid yang kaku kepada pemimpin. Di saat yang sama, kepada kader-kadernya ditanamkan semangat rasionalitas yang tinggi di dalam memahami teks-teks wahyu, meskipun tidak sampai jatuh ke dalam kubangan rasionalisme liberal. HMI mempercayai, berislam dengan mengaktifkan akal sama pentingnya dengan menalar dengan tuntunan Islam. Di sinilah kuncinya agar selamat dari tipu daya atas nama Islam maupun atas nama kebebasan berpikir.
Oleh karena itu, dengan adanya tantangan isu terorisme dan aliran sesat ini, sepatutnyalah menyadarkan komunitas HMI untuk terlibat aktif memberikan penangkal bagi umat agar tidak terjatuh ke dalam dua kutub ekstrim tersebut: beriman dengan taklid yang kaku hingga menyuburkan aksi terorisme dan aliran sesat dan berpikir sebebas-bebasnya hingga meninggalkan moralitas agama. Penangkal itu adalah berislam dengan mengaktifkan akal pikiran dan pada saat yang sama berpikir dengan tuntunan Islam. Tercapainya kedua kondisi ini akan mewujudkan kondisi beragama yang seimbang.
Selain masalah insidental yang disebut di atas, terdapat pula masalah kronis yang menyelimuti umat Islam dewasa ini, yaitu kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan tidak selalu paralel dengan tidak punya ijazah sekolah formal. Tetapi yang lebih tepat adalah lumpuhnya potensi nalar di dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia.
Kebodohan dan kemiskinan ini laksana dua sisi mata uang. Kebodohan sudah lumrah mengakibatkan kemiskinan. Demikian pun kemiskinan mengakibatkan kebodohan. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana biaya pendidikan begitu mahal, maka semakin nyatalah bagi orang miskin seolah-olah telah ditakdirkan berada di dalam kelas sosial yang bodoh. Sementara kita sama-sama tahu, untuk meningkatkan derajat ekonomi seseorang pada hari ini berbanding lurus dengan pendidikan yang dia miliki.
Dua masalah sosial kronis tersebut menurut hemat saya setidaknya disebabkan oleh dua faktor: faktor struktural dan non struktural. Faktor struktural misalnya ketertutupan akses ke sumber-sumber ekonomi, kekuasaan, informasi, pengetahuan, dan pendidikan. Tertutupnya akses tersebut di antaranya disebabkan oleh karena kelas yang berkuasa ingin menikmati lebih lama kondisi-kondisi status quo yang menguntungkan mereka. Adalah sulit untuk mengharapkan kelas yang berkuasa memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengakses sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan yang mereka miliki. Pembukaan akses bagi masyarakat miskin hanya bisa terjadi jika kelas yang berkuasa dirombak.
Kedua, faktor non struktural. Tidak dapat dipungkiri, beberapa ciri jiwa sosial masyarakat kita juga menyumbang bagi pemapanan posisi mereka dalam kelas terpinggirkan. Sikap toleransi terhadap penderitaan yang mereka hadapi (toleransi yang negatif) dan mengutamakan harmoni dari pada menuntut keadilan dan persamaan telah membuat mereka susah untuk didorong lebih maju di dalam menuntut hak-hak asasinya.
Data Maret 2006 menunjukkan sebanyak 39,5 juta (17,75%) penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan pada tahun sebelumnya (2005), jumlah penduduk miskin sebanyak 35,10 juta jiwa (15,97%). Dan apabila kita perhatikan, tren dari data kemiskinan tersebut setiap tahun terus meningkat. Dari tahun 2005 ke tahun 2006 saja terdapat peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,95 juta jiwa.
Menuju Solusi
Mendapatkan kenyataan itu, memang sungguh menyakitkan hati. Akan tetapi hendaknya kenyataan tersebut tidak menimbulkan rasa putus asa bagi penggiat-penggiat perubahan. Masih banyak jalan keluar yang tersedia untuk mendorong berlangsungnya perubahan.
Di antara jalan keluar yang dapat diambil adalah dengan melancarkan program pendidikan yang bermuatan penyadaran dan berorientasi masa depan. Dalam hal ini, sudah sepatutnya institusi-institusi pendidikan yang dikelola oleh ormas-ormas Islam melakukan reformasi, minimum reformasi kurikulum.
Tentu ada pertanyaan, mengapa dibebankan kepada institusi pendidikan? Sebab menurut pendapat saya, bagian yang paling dominan membentuk secara langsung perkembangan diri seseorang terletak pada institusi pendidikan. Sedangkan panduan dan isi yang digunakan oleh guru di dalam membentuk individu tersebut adalah kurikulum.
Oleh karena itu, reformasi kurikulum setidaknya dapat menampung misi penyadaran posisi umat Islam yang lemah dan pembekalan keterampilan hidup praktis. Selama ini, nyaris dapat dikatakan, institusi-institusi pendidikan Islam hanya mereformasi dirinya dengan cara mengadopsi sistem dan managemen pendidikan Barat yang memang sudah jauh berkembang. Cara reformasi semacam itu samalah artinya mempermanenkan umat Islam berada di belakang kemajuan yang dicapai oleh umat lain. (H-rey)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar