Selasa, 22 April 2008

Tafsir Independensi HMI

I. Pendahuluan
Menurut fitrah kejadiannya, maka manusia diciptakan bebas dan merdeka. Karenanya kemerdekaan pribadi adalah hak yang pertama. Tidak ada sesuatu yang lebih berharga dari pada kemerdekaan itu. Sifat dan suasana bebas dan kemerdekaan seperti diatas, adalah mutlak diperlukan terutama pada fase/saat manusia berada dalam pembentukan dan pengembangan. Masa/fase pembentukan dari pengembangan bagi manusia terutama dalam masa remaja atau generasi muda.
Mahasiswa dan kualitas-kualitas yang dimilikinya menduduki kelompok elit dalam generasinya. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis adalah ciri dari kelompok elit dalam generasi muda, yaitu kelompok mahasiswa itu sendiri. Sifat kepeloporan, keberanian dan kritis yang didasarkan pada obyektif yang harus diperankan mahasiswa bisa dilaksanakan dengan baik apabila mereka dalam suasana bebas merdeka dan demokratis obyektif dan rasional. Sikap ini adalah yang progresif (maju) sebagai ciri dari pada seorang intelektual. Sikap atas kejujuran keadilan dan obyektifitas.
Atas dasar keyakinan itu, maka HMI sebagai organisasi mahasiswa harus pula bersifat independen. Penegasan ini dirumuskan dalam pasal 7 AD HMI yang mengemukakan secara tersurat bahwa "HMI adalah organisasi yang bersifat independen"sifat dan watak independen bagi HMI adalah merupakan hak azasi yang pertama.
Untuk lebih memahani esensi independen HMI, maka harus juga ditinjau secara psichologis keberadaan pemuda mahasiswa islam yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam yakni dengan memahami status dan fungsi dari HMI.

II. Status dan Fungsi HMI
Status HMI sebagai organisasi mahasiswa memberi petunjuk dimana HMI berspesialisasi. Dan spesialisasi tugas inilah yang disebut fungsi HMI. Kalau tujuan menujukan dunia cita yang harus diwujudkan maka fungsi sebaliknya menunjukkan gerak atau kegiatan (aktifitas) dalam mewujudkan (final gool). Dalam melaksanakan spesialisasi tugas tersebut, karena HMI sebagai organisasi mahasiswa maka sifat serta watak mahasiswa harus menjiwai dan dijiwai HMI. Mahasiswa sebagai kelompok elit dalam masyarakat pada hakikatnya memberi arti bahwa ia memikul tanggung jawab yang benar dalam melaksanakan fungsi generasinya sebagai kaum muda muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis itu mahasiswa dan masyarakat berperan sebagai "kekuatan moral"atau moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi "sosial control". Untuk itulah maka kelompok mahasiswa harus merupakan kelompok yang bebas dari kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan ke masa depan. Dalam rangka penghikmatan terhadap spesialisasi kemahasiswaan ini, akan dalam dinamikanya HMI harus menjiwai dan dijiwai oleh sikap independen.
Mahasiswa, setelah sarjana adalah unsur yang paling sadar dalam masyarakat. Jadi fungsi lain yang harus diperankan mahasiswa adalah sifat kepeloporan dalam bentuk dan proses perubahan masyarakat. Karenanya kelompok mahasiswa berfungsi sebagai duta-duta pembaharuan masyarakat atau "agen of social change". Kelompok mahasiswa dengan sikap dan watak tersebut di atas adalah merupakan kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri untuk menerima estafet pimpinan bangsa dan generasi sebelumnya pada saat yang akan datang. Oleh sebab itu fungsi kaderisasi mahasiswa sebenarnya merupakan fungsi yang paling pokok. Sebagai generasi yang harus melaksanakan fungsi kaderisasi demi perwujudan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat, bangsa dan negaranya di masa depan maka kelompok mahasiswa harus senantiasa memiliki watak yang progresif dinamis dan tidak statis. Mereka bukan kelompok tradisionalis akan tetapi sebagai "duta-duta pembaharuan sosial" dalam pengertian harus menghendaki perubahan yang terus menerus ke arah kemajuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran. Oleh sebab itu mereka selalu mencari kebenaran dan kebenaran itu senantiasa menyatakan dirinya serta dikemukakan melalui pembuktian di alam semesta dan dalam sejarah umat manusia. Karenanya untuk menemukan kebenaran demi mereka yang beradab bagi kesejahteraan umat manusia maka mahasiswa harus memiliki ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai kebenaran dan berorientasi pada masa depan dengan bertolak dari kebenaran Illahi. Untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang dilandasi oleh nilai-nilai kebenaran demi mewujudkan beradaban bagi kesejahteraan masyarakat bangsa dan negara maka setiap kadernya harus mampu melakukan fungsionalisasi ajaran Islam.
Watak dan sifat mahasiswa seperti tersebut diatas mewarnai dan memberi ciri HMI sebagai organisasi mahasiswa yang bersifat independen. Status yang demikian telah memberi petunjuk akan spesialisasi yang harus dilaksanakan oleh HMI. Spesialisasi tersebut memberikan ketegasan agar HMI dapat melaksanakan fungsinya sebagai organisasi kader, melalui aktifitas fungsi kekaderan. Segala aktifitas HMI harus dapat membentuk kader yang berkualitas dan komit dengan nilai-nilai kebenaran. HMI hendaknya menjadi wadah organisasi kader yang mendorong dan memberikan kesempatan berkembang pada anggota-anggotanya demi memiliki kualitas seperti ini agar dengan kualitas dan karakter pribadi yang cenderung pada kebenaran (Hanief) maka setiap kader HMI dapat berkiprah secara tepat dalam melaksanakan pembaktiannya bagi kehidupan bangsa dan negaranya.

III. Sifat Independensi HMI
Watak independen HMI adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader HMI. Implementasinya harus terwujud di dalam bentuk pola pikir, pola pikir dan pola laku setiap kader HMI baik dalam dinamika dirinya sebagai kader HMI maupun dalam melaksanakan "Hakekat dan Mission" organisasi HMI dalam kiprah hidup berorganisasi bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Watak independen HMI yang tercermin secara etis dalam pola pikir pola sikap dan pola laku setiap kader HMI akan membentuk "Independensi etis HMI", sementara watak independen HMI yang teraktualisasi secara organisatoris di dalam kiprah organisasi HMI akan membentuk "Independensi organisatoris HMI".
Independensi etis adalah sifat independensi secara etis yang pada hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. Fitrah tersebut membuat manusia berkeinginan suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief). Watak dan kepribadian kader sesuai dengan fitrahnya akan membuat kader HMI selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesucian dan kebenaran adalah ALLAH SUBHANAHU WATA\'ALA. Dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader HMI berarti pengaktualisasian dinamika berpikir dan bersikap dan berprilaku baik "habluminallah" maupun dalam "habluminannas" hanya tunduk dan patuh dengan kebenaran.
Aplikasi dari dinamika berpikir dan berprilaku secara keseluruhan merupakan watak azasi kader HMI dan teraktualisasi secara riil melalui, watak dan kepribadiaan serta sikap-sikap yang :
1. Cenderung kepada kebenaran (hanief)
2. Bebas terbuka dan merdeka
3. Obyektif rasional dan kritis
4. Progresif dan dinamis
5. Demokratis, jujur dan adil.

Independensi organisatoris adalah watak independensi HMI yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika HMI baik dalam kehidupan intern organisasi maupun dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara.
Independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional HMI secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita semakin hari semakin terwujud. Dalam melakukan partisipasi partisipasi aktif, kontruktif, korektif dan konstitusional tersebut secara organisasi HMI hanya tunduk serta komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas.
Dalam melaksanakan dinamika organisasi, HMI secara organisatoris tidak pernah "commited" dengan kepentingan pihak manapun ataupun kelompok dan golongan maupun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran dan obyektifitas kejujuran dan keadilan.
Agar secara organisatoris HMI dapat melakukan dan menjalankan prinsip-prinsip independensi organisatorisnya, maka HMI dituntut untuk mengembangkan "kepemimpinan kuantitatif" serta berjiwa independen sehingga perkembangan, pertumbuhan dan kebijaksanaan organisasi mampu diemban selaras dengan hakikat independensi HMI. Untuk itu HMI harus mampu menciptakan kondisi yang baik dan mantap bagi pertumbuhan dan perkembangan kualitas-kualitas kader HMI. Dalam rangka menjalin tegaknya "prinsip-prinsip independensi HMI" maka implementasi independensi HMI kepada anggota adalah sebagai berikut :
• Anggota-anggota HMI terutama aktifitasnya dalam melaksanakan tugasnya harus tunduk kepada ketentuan-ketentuan organisasi serta membawa program perjuangan HMI. Oleh karena itu tidak diperkenankan melakukan kegiatan-kegiatan dengan membawa organisasi atas kehendak pihak luar manapun juga.
• Mereka tidak dibenarkan mengadakan komitmen-komitmen dengan bentuk apapun dengan pihak luar HMI selain segala sesuatu yang telah diputuskan secara organisatoris.
• Alumni HMI senantiasa diharapkan untuk aktif berjuang menruskan dan mengembangkan watak independensi etis dimanapun mereka berada dan berfungsi sesuai dengan minat dan potensi dalam rangka membawa hakikat dan mission HMI. Dan menganjurkan serta mendorong alumni untuk menyalurkan aspirasi kualitatifnya secara tepat dan melalui semua jalur pembaktian baik jalur organisasi profesional kewiraswastaan, lembaga-lembaga sosial, wadah aspirasi poilitik lembaga pemerintahan ataupun jalur-jalur lainnya yang semata-mata hanya karena hak dan tanggung jawabnya dalam rangka merealisir kehidupan masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT. Dalam menjalankan garis independen HMI dengan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, pertimbangan HMI semata-mata adalah untuk memelihara mengembangkan anggota serta peranan HMI dalam rangka ikut bertanggung jawab terhadap negara dan bangsa. Karenanya menjadi dasar dan kriteria setiap sikap HMI semata-mata adalah kepentingan nasional bukan kepentingan golongan atau partai dan pihak penguasa sekalipun. Bersikap independen berarti sanggup berpikir dan berbuat sendiri dengan menempuh resiko. Ini adalah suatu konsekuensi atau sikap pemuda. Mahasiswa yang kritis terhadap masa kini dan kemampuan dirinya untuk sanggup mewarisi hari depan bangsa dan negara.

IV. Peranan Iindependensi HMI di Masa Mendatang
Dalam suatu negara yang sedang berkembang seperti Indonesia ini maka tidak ada suatu investasi yang lebih besar dan lebih berarti dari pada investasi manusia (human investment). Sebagaimana dijelaskan dalam tafsir tujuan, bahwa investasi manusia kemudian akan dihasilkan HMI adalah manusia yang berkualitas ilmu dan iman yang mampu melaksanakan tugas-tugas manusia yang akan menjamin adanya suatu kehidupan yang sejahtera material dan spiritual adil makmur serta bahagia.
Fungsi kekaderan HMI dengan tujuan terbinanya manusia yang berilmu, beriman dan berperikemanusiaan seperti tersebut di atas maka setiap anggota HMI dimasa datang akan menduduki jabatan dan fungsi pimpinan yang sesuai dengan bakat dan profesinya.
Oleh karena itu hari depan HMI adalah luas dan gemilang sesuai status fungsi dan perannya dimasa kini dan masa mendatang menuntut kita pada masa kini untuk benar-benar dapat mempersiapkan diri dalam menyongsong hari depan HMI yang gemilang.
Dengan sifat dan garis independen yang menjadi watak organisasi berarti HMI harus mampu mencari, memilih dan menempuh jalan atas dasar keyakinan dan kebenaran. Maka konsekuensinya adalah bentuk aktifitas fungsionaris dan kader-kader HMI harus berkualitas sebagaimana digambarkan dalam kualitas insan cita HMI. Soal mutu dan kualitas adalan konsekuensi logis dalam garis independen HMI harus disadari oleh setiap pimpinan dan seluruh anggota-anggotanya adalah suatu modal dan dorongan yang besar untuk selalu meningkatkan mutu kader-kader HMI sehingga mampu berperan aktif pada masa yang akan datang.
Wabilahittaufiq wal hidayah,

Minggu, 20 April 2008

Selamat Hari Kartini...

Semoga perempuan Indonesia lebih mendalami hakekat dari Hari Kartini.
Jayalah KOHATI..
Bahagia HmI!!

Sabtu, 19 April 2008

HMI Back to Kampus ?

Saat ini, kita, khususnya kader HMI sering kali mendengar wacana HMI back to kampus, yang katanya merupakan salah satu cara untuk pendistribusian kader ke kampus sekaligus untuk mencari bibit kader yang baru. simplenya, untuk mengembalikan kembali citra HMI yang telah pudar.
Benarkah HMI mampu merealisasikan wacana tersebut? Mungkinkah wacana tersebut bisa terwujud sesuai dengan harapan? Jawabannya benar dan mungkin!!! Tanya kenapa? Karena HMI mempunyai motto YAKUSA, yakin usaha sampai, artinya tak ada kata berhenti untuk berusaha, terus dan terus, itulah militansi kader yang diharapkan!
Sekarang mari kita berkaca pada pada upaya yang dilakukan komisariat untuk merealisasikan hal tersebut. Komisariat merupakan ujung tombak pengkaderan di HMI, katanya. Artinya, tanpa komisariat tak akan pernah ada regenerasi kader di HMI. Maka dari itu, komisariat merupakan salah satu mata rantai yang sangat penting dalam HMI. Bila mata rantai ini putus maka, laju percepatan HMI akan melambat dan hampir pasti berhenti.
Untuk merealisasikan wacana HMI back to kampus diperlukan kader yang benar-benar matang. Artinya, kader tersebut memang seorang kader yang berkualitas, yang telah melewati sistematika proses kaderisasi di HMI sehingga kader tersebut siap didistribusikan ke kampus dalam rangka HMI back to kampus. Tidak hanya itu, kader-kader baru yang potensial pun seharusnya bisa langsung didistribusikan walaupun, kader tersebut belum maksimal dalam menjalani proses kaderisasi.
Paling tidak, ia bisa diberi kepercayaan untuk masuk ke dalam lingkaran sistem HMI – Kampus – HMI, sambil menyelesaikan proses pengkaderannya di HMI. Untuk itu, hendaknya proses kaderisasi ini benar-benar berjalan mulus tanpa adanya kerikil-kerikil yang bisa menghambat laju pendistribusian kader dalam rangka HMI back to kampus.
Pernah terjadi beberapa kasus di beberapa komisariat yang akhirnya menimbulkan opini negatif tentang HMI back to kampus. Misalnya, efektifkah HMI back to kampus, adakah feedback yang terjadi setelah kader didistribusikan? Contoh kasus yang paling menggelitik adalah sentimen pribadi yang terjadi antar kader.
Alangkah lucunya bila tersendatnya upaya HMI back to kampus terjadi hanya karena sentimen pribadi, dan yang lebih lucu lagi bila semua itu terjadi hanya karena egosentris seorang kader untuk mewujudkan obsesinya. Ironis sekali, bukan? Kalau begini terus, maka konsep atau wacana HMI back to kampus hanyalah sebuah mimpi atau omong kosong belaka.
Kasus-kasus di atas merupakan beberapa contoh dari sekian banyak kasus pergeseran nilai-nilai independensi, intelektualitas lima insan cita, profesionalitas kader, dan lain sebagainya. Singkatnya, kasus-kasus tersebut memberikan indikasi adanya pergeseran budaya dalam HMI.
Kalau keadaannya begini, bagaimana kita bisa mewujudkan konsep HMI back to Kampus kalau ternyata kualitas dan mental kader HMI sangat feminis seperti ini. Apalagi kalau harus dihadapkan pada peta permasalahan umat saat ini, bisa-bisa tekor. Ternyata, penjajahan yang dilakukan oleh kaum barat sudah sangat parah. Sampai-sampai bisa menanamkan ideologi-ideologi dan konsep kapitalis, materalis, dan yang paling parah serta menggelitik adalah feminis. Saat ini, mungkin itulah anti-ideologi yang sedang ditanamkan pada masyarakat, khususnya kader HMI yaitu, kapitalis, materialis, dan feminis.
Sebegitu materialisnya, sampai-sampai bisa menghilangkan nilai-nilai lima insan cita yang menjadi pedoman seorang kader, dan sebegitu feminisnya sampai-sampai sentimen pribadi mengacaukan proses realisasi HMI back to kampus. Alangkah mirisnya saudara-saudara, ternyata semua itu bisa terjadi dan ada di HMI!! Apakah kita harus mengasah kembali kepekaan kita pada lingkungan? Apakah kita harus memperbaiki pola pengkaderan? Apakah kita harus mencari tahu siapa yang salah dan yang benar? Dan, apakah kita harus kehilangan generasi HMI? Naudzubillah…..
Mari bersama-sama kita benahi permasalahan ini, tunjukkan militansi kita sebagai seorang kader, realisasikan HMI back to kampus sesuai dengan yang diharapkan, dan meniatkan ibadah untuk setiap hal yang kita lakukan menuju tercapainya umat yang tengah. Tidak perlu memikirkan yang besar-besar dulu, cukup dimulai dari ruang lingkup terkecil dan terdekat dahulu yaitu, diri sendiri dan komisariat tercinta.
Bila kita menyadari bad impact dari kasus-kasus di atas, insyaallah kita bisa membuat sebuah pembaharuan pola pengkaderan untuk melestarikan kehidupan kader di HMI sehingga, tidak akan ada yang namanya lost generation!!! Hidup HMI!!!!!!!!!!
YAKUSA!!!!!!!!
[yudha]

Sebuah Impian

Di tanganmu tumpuan harapan penerus cita-cita
Membebaskan negara tercinta dari orang-orang yang serakah
Curahkan daya dan upaya jiwa raga dan pikiran
Demi rakyat, bangsa dan negara tuk ridho Allah yang Kuasa
Tekadmu bulatkan semangatmu kobarkan
Menuju sebuah impian
Menjalin ikatan membangun persatuan
Himpunan mahasiswa Islam

Darah Juang

Di sini negri kami tempat padi terhampar
Samudranya kaya raya, tanah kami subur Tuan..
Di negri permai ini berjuta rakyat bersimbah luka
Anak kurus tak sekolah pemuda desa tak kerja
Mereka dirampas haknya tergusur dan lapar
Bunda relakan darah juang kami
untuk membebaskan rakyat..

Kado Untuk Sang Hijau Hitam

Yogyakarta, 14 Rabiul Awal 1366H bertepatan tanggal 5 Pebruari 1947 Lafran Pane beserta 14 orang mahasiswa STI lainnya mendirikan sebuah organisasi yang sekarang merupakan organisasi mahasiswa tertua dan terbesar di Indonesia. Himpunan mahasiswa Islam (HmI) yang pada hari ini telah berusia 61 tahun. Artinya, HmI sudah menginjak masa dewasa atau matang yang tidak bisa dipungkiri kesalahan dan kekurangan dalam proses tetap terjadi sepanjang proses itu terus berjalan.
Sebagai kader Sang Hijau Hitam sudah selayaknya pada hari ini mulai melakukan introspeksi diri. Seberapa jauh tujuan HmI tercapai? Apa saja yang telah kita lakukan untuk HmI?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut memang layak direnungkan oleh setiap kader HmI. Bukan menghitung keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai, namun mencari seberapa besar kealpaan yang terjadi untuk lebih mawas diri. Hal ini tentunya agar dapat diformulasikan ke dalam strategi proses kedepan dengan tuntutan hari esok yang lebih baik.
”... Allah akan mengangkat (meninggikan) kualitas (derajat) orang-orang yang beriman dan orang-orang yang berilmu pengetahuan. Dan Allah mengetui apa yang kamu kerjakan.” (Al Mujadalah ayat 11).
Demi masa depan HmI yang cerah, diperlukan pembentukan kader yang berkualitas sehingga mampu untuk menjadi kader HmI yang berkualitas 5 insan cita. Agar hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih cerah dari hari ini.
Lalu kado apa yang kita berikan untuk Sang Hijau Hitam?
Dirgahayu HmI..
Yakin Usaha Sampai...
[by.tehfairiez]

Rekonstruksi Gerakan Intelektual Mahasiswa

Siapapun tidak akan memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menghadirkan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting. Siapapun dia tidak bisa memungkiri, bahwa gerakan mahasiswa memiliki peranan yang cukup berarti dalam perjalanan bangsa ini. Berbagai macam momen dan peristiwa yang terjadi senantiasa menjadikan sosok mahasiswa sebagai bagian dari unsur terpenting. Setumpuk predikat filosofis pun disandang mahasiswa; mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change), control social (social control), kekuatan moral (moral force), cadangan potensial (iron stock)generasi estapet bangsa,dan sebagainya walaupun akhirnya seiring dengan semakin terkikisnya vitalitas mahasiswa, walau sering kali predikat itu menjadi romantisme belaka yang selalu dibicarakan di dikantin-kantin kampus.
Yang akhirnya menimbulkan pertanyaan mengapa gerakan kaum intelektual ini seolah belum menemukan pola baku dalam melawan segala tirani dan ketidakadilan para penguasa yang semakin hari semakin tidak memihak kepada rakyat. Bahkan penindasan ini dilakukan oleh para penguasa yang katanya kaum religius dan taat pada agama..? kaitanya dengan demokrasi, memang kita akan melihat bahwa mahasiswa adalah bagian dari komponen yang telah dimasukkan kedalam system pembodohan yang dilakukan dikampus yang mengatasnamakan demokrasi. Mereka hamper sepakat bahwa demokrasi adalah ide yang baik diambil untuk diambil hingga akhirnya menjadi nilai-nilai yang mewarnai perjuangannya. Sesungguhnya demokrasi yang kita terapkan di negri ini adalah system demokrasi yang telah usang dan takterpakai lagi di dunia barat namun masih banyak kaum intelektual kampus yang masih latahdengan selalu membanggakan demokrasi yang telah usang tersebut yang menjadi ironis dan menyedihkan adalah masih ada kelompak mahasiswa yang membangun gerakan pendukung penguasa yang tirani bahkan ada organisasi mahasiswa yang tanpa sadar telah dijadikan alat gerakan partaiyang lalgi lagi mengatasnamakan rakyat dan demokrasi. Memang sangat menyedihkan!!!!!!!!!.....
Akibatnya banyak mahasiswa yang terjebak dan lupa akan arah perjuangan mahasiswa yang sesungguhnya. Sudah seharusnya mahasiswa kembali kepada garis arah perjuangan mahasiswa yang sebenarnya (idealis) yang harus selalu dipertahankan. Mai kaea-kawan mahasiswa kita kembali lagi lanjutkan khitah perjuangan kita yang sebenarnya. Untuk itu kita dapat kembalipada garis perjuangan maka kita harus memperhatikan beberapa hal yang harus kembali menjadi acuan kita bersama :
Sebagai kaum intelektual organic maka kita harusmemiliki ide-ide yang jelas dan mudah dimengerti oleh banyak orang. Dalam artian ide-ide yang kita keluarkan telah melalui proses studi kelayakakn dan kesimpulan berdasarkan sudut pandang studi yang kita miliki dan berbagai pendekatan berbagai ilmu pengetahuan yang mampu memperkuat ide-ide yang akan kita lontarkan. Kita semua menyadari bahwa dikampus ini kita ditempah untuk dilahirakan menjadi insane-insan akademis (intelektual). Ternyata prinsip ini sudah hamper tidak mampu lagi menampilkan diri sebagai insane yang cerdas, namun lebih bersifat emosional tanpa konseptual. Untuk berhasil dalam sebuah gerakan maka kita harus berfikir dengan kecerdasa. Sebagaimana firman Allah”manusia tidak mampu menembus langit dan bumi kecuali bagi mereka yang berfikir (Q.S Ar Rahman.33)” Oleh karna itu mari kita kembali mengasah kemampuean ita untuk melahirkan ide-ide baru untuk sebuah gerakan intelektual guna melawan tirani para penguasa yang kian hari semakin tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.
Kita sebagai mahasiswa harus mampu melahirkan (dibaca:insane pencipta) metode gerakan yang reformatif. Kita sebagai bagian dari gerakan harus mampu melihat akar permasalahan dengan jeli dan harus melahirkan gerakan yang dilancarkan yang sifatnya memberikan solutif. Karna ketika kita melihat ketidakadilan tidak mungkin hanya menyerukan tegakkan keadilan dan bersihkan aparat pemerintah dari KKN. Tetapi kita harus mampu menggali akar permasalahan yang sebenarnya. K ita sebagai kaum intelektual yang melahirkan ide-ide cemerlang harus mampu membuat sebuah metode untuk menggali akr permasalahan dan menentukan titik penyebab permasahan sebenarnya. Krna kita semua telah mengetahui bahwa diwilayah penguasa (eksekutif, legislative, dam yudikatif) telah terbentuk lingkara setan ang telah melahirkan sebuah kesepakatan yang saling menguntungkan. Artinya hanya rakyat yang saat inimenjadi objek penghisapa para penguasa. Kita sebagai bagian dari pergerekan mahasiswa harus mampu melahirkan metode untuk memperjuangkan rakyat kita yang telah tertindas dan dirampas haknya.
Mahasiswa yang merupakan bagian dari gerakan intelektual harus rela dan mampu mengabdikan(dibaca:insane pengabdi) pengetahuannya demi keberpihakkan kepada kepentingan rakyat. Sebagaimana tercantum didalam tri dharma perguruan tinggi salah satunya adalah pengabdian. Pengabdian disini jangan kita artikan secara sempit tetapi pengabdian disini berrti kita harus mampu menyumbangkan ilmu pengetahuan yang kita miliki untuk kepentingan rakyat. Pengetahuan yang kita miliki harus mampu memecahkan persoalan-persoalan yang terjadi didalam masyarakat. Kita sebagai kaum intelektual harus mampu menyumbangkan kemampuan kita untuk memberikan solusi yang harus rela bergerak untuk memperjuangkan apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan masyarakat yang semakin tertindas oleh penguasa.
Kita harus menghancurkan gerakan yang bersufat pragmatis. Kiat harus melahirkan gerakan yang berlandaskan pada kebenaran universal (idealisme). Idealisme sebagian gerakan mahasiswa tidak lagi muncul dalam pemikiran-pemikirannya. Idealisme itu seolah tenggelam ditengah kegalauan kehidupan in. Berbenturan dengan kebutuhan perut, berbenturan dengan ketidak berdayaan diri dalam menghadapi arogansi penguasa atau berbenturan dangan mayoritas suara yang menyesatkan. Sehingga melahirkan geraka-gerakan yang mengutamakan kepentingan perut. Biasanya gerakan pragmatis selalu menjustifikasi sebuah kebenaran adalah milik mereka bahkan tanpa sadar mereka telah ikut menghisap rakyat yang kian tertindas. Mari bersama kita perkuat barisan untuk membangungerakan yang berlandaskan pada kebenaran universal dan berpihak pada kepentingan masyarakat dan masa depan bangsa kita. Mengapa kita berani menyuarakan suara kebenaran dan berpihak pada kepentingan rakyat bukankah Allah Swt berfirman”sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran supaya kamu mengadili (menghukumi) antara manusia dengan apa yang telah Allh wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang khianat”(QS. An-Nisa’[4]:105).
Gerakan mahasiswa sering tidak memiliki idiologi yang jelas. Idiologi merupakan pandangan hidup yang menyeluruh yang menelurkan sebuah system dan arah bagi kehidupan sebuah gerakan. Inilah yang menjadi persoalan mendasar pada saat ini. Banyak gerakan-gerakan mahasiswa tidak lagi dilandasi idiologi yang jelas dan benar. Sehingga banyak gerakan yang dibangun dengan ide-ide yang serabutan seperti anak kecil yang baru mengenal barang baru yang tidak tahu untuk apa dan bagaimana menggunakannya. Mengapa demikian..? karma pemikiran tidak lagi berhubungan dengan lingkungan masyarakat, kepribadian dan sejarah pergerakan mahasiswa serta tidak lagi berlandaskan pada idiologi yang jelas dan benar akan keberpihakkannya pada rakyat. Oleh karma iu kita sebagai kaum intelektual melakukan pergerakan harus berlandaskan pada idiologi yang jeas dan benar. Karna apa yang kita perjuangkan harus mampu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT.
Kesimpulan
Mari kita sebagai mahasiswa sama-sama menyadari bahwa kita akan menjadi saksi kehancuran dari negri ini bila kita membiarkan system yang bobrok ini. Tidak cukup kita hanya dengan membincangkannya diwarung-warung tetapi kita harus bergerak dna turun langsung memperjuangkan kepentingan masyarakat. Kita telah sama-sama mengetahui persoalan yang dihadapi daerah ini dimana para penguasa memiliki keberpihakkan kepada kepentingan rakyat banyak. Melainkan hanya melahirkan kebijakan-kebijakan yang sifatnya hanya mengutamakan kepentingan kelompok penguasa. Sepertinya para penguasa akan sadar dan hanya akan tunduk pada kekuatan parlemen jalanan. Sebagai kekuatan kaum intelektual sudah sewajarnya kita kembali bergerak demi keberpihakkan pada kepentingan rakyat
Penulis adalah mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Fisip UNIB dan tim Gerakan Solidaritas Bengkulu (GERSIB), Presiden Mahasiswa UNIB terpelih “Dempo Xler”

TANTANGAN NYATA UMAT ISLAM

Dewasa ini umat Islam semakin rutin dihadapkan dengan masalah-masalah sulit yang banyak menguras energinya. Masalah-masalah sulit yang menimpa umat Islam tersebut dapatlah secara sederhana kita kelompokkan ke dalam dua masalah mendasar: masalah yang bersifat insidental dan masalah yang bersifat kronis. Yang insidental misalnya terorisme dan kemudian ditambah belakangan muncul pula isu aliran sesat.
Sangat menyakitkan, jika kedua isu insidental ini telah berhasil mencoreng wajah umat Islam. Sehingga jika orang membicarakan isu terorisme dan aliran sesat segeralah terasosiasi di dalam pikiran orang bahwa umat Islam selain mempunyai sisi yang positif ternyata juga menyimpan sisi negatif. Tentulah saya tidak akan membicarakan apa motif di balik pemunculan kedua isu negatif ini; apakah untuk mendiskreditkan integritas dan kredebilitas umat Islam atau pun ada agenda lain yang terselubung di balik kedua isu tersebut.
Seperti bisanya, kemunculan isu-isu sensasional semacam itu tidaklah luput dari agenda strategis. Sudah tentu ada yang menangguk keuntungan di balik fenomena yang sungguh-sungguh tidak alamiah tersebut. Siapakah mereka dan apakah agenda besarnya, hal itu bukanlah merupakan tujuan dari tulisan kecil ini.
Dalam kesempatan tulisan ini, saya hanya ingin memaparkan bahwa ternyata hingga hari ini umat Islam tidak terlepas dari isu-isu sensasional dan negatif yang merontokkan citranya sebagai agama yang berkemajuan seperti yang telah dibangun dengan susah-payah selama ini.
Sesungguhnya isu sensasional semacam itu akan dapat dicegah jika rasionalitas berkembang baik di kalangan umat Islam. Sejujurnya kita akui betapa masih banyak kelompok umat Islam terperosok ke dalam fanatisme buta dan taklid yang kaku terhadap aliran-aliran pemikiran yang dianutnya. Fanatisme buta dan taklid yang kaku inilah yang menjadi lahan empuk bagi berkembangnya penyimpangan-penyimpangan dan tindakan-tindakan terorisme.


Relevansi HMI
Salah satu relevansi kehadiran ormas semacam HMI adalah untuk menjawab tantangan-tantangan klasik semcam ini. Disebut klasik, sebab fenomena terorisme dan aliran sesat yang mengait-kaitkan diri dengan Islam sudah lama muncul dalam halaman-halaman sejarah. Di Indonesia sendiri misalnya, pada tahun 1980-an telah dikenal kelompok semacam Komando Jihad, Teror Imron, dan sebagainya. Sedangkan untuk isu aliran sesat, dahulu sudah dikenal pula kelompok inkar sunnah.
Sejauh ini, HMI di dalam melaksanakan program-program pelatihannya, terbebas dari semangat fanatisme buta dan taklid yang kaku kepada pemimpin. Di saat yang sama, kepada kader-kadernya ditanamkan semangat rasionalitas yang tinggi di dalam memahami teks-teks wahyu, meskipun tidak sampai jatuh ke dalam kubangan rasionalisme liberal. HMI mempercayai, berislam dengan mengaktifkan akal sama pentingnya dengan menalar dengan tuntunan Islam. Di sinilah kuncinya agar selamat dari tipu daya atas nama Islam maupun atas nama kebebasan berpikir.
Oleh karena itu, dengan adanya tantangan isu terorisme dan aliran sesat ini, sepatutnyalah menyadarkan komunitas HMI untuk terlibat aktif memberikan penangkal bagi umat agar tidak terjatuh ke dalam dua kutub ekstrim tersebut: beriman dengan taklid yang kaku hingga menyuburkan aksi terorisme dan aliran sesat dan berpikir sebebas-bebasnya hingga meninggalkan moralitas agama. Penangkal itu adalah berislam dengan mengaktifkan akal pikiran dan pada saat yang sama berpikir dengan tuntunan Islam. Tercapainya kedua kondisi ini akan mewujudkan kondisi beragama yang seimbang.
Selain masalah insidental yang disebut di atas, terdapat pula masalah kronis yang menyelimuti umat Islam dewasa ini, yaitu kebodohan dan kemiskinan. Kebodohan tidak selalu paralel dengan tidak punya ijazah sekolah formal. Tetapi yang lebih tepat adalah lumpuhnya potensi nalar di dalam memecahkan masalah yang dihadapi oleh manusia.
Kebodohan dan kemiskinan ini laksana dua sisi mata uang. Kebodohan sudah lumrah mengakibatkan kemiskinan. Demikian pun kemiskinan mengakibatkan kebodohan. Apalagi di zaman sekarang ini, di mana biaya pendidikan begitu mahal, maka semakin nyatalah bagi orang miskin seolah-olah telah ditakdirkan berada di dalam kelas sosial yang bodoh. Sementara kita sama-sama tahu, untuk meningkatkan derajat ekonomi seseorang pada hari ini berbanding lurus dengan pendidikan yang dia miliki.
Dua masalah sosial kronis tersebut menurut hemat saya setidaknya disebabkan oleh dua faktor: faktor struktural dan non struktural. Faktor struktural misalnya ketertutupan akses ke sumber-sumber ekonomi, kekuasaan, informasi, pengetahuan, dan pendidikan. Tertutupnya akses tersebut di antaranya disebabkan oleh karena kelas yang berkuasa ingin menikmati lebih lama kondisi-kondisi status quo yang menguntungkan mereka. Adalah sulit untuk mengharapkan kelas yang berkuasa memberikan kesempatan bagi yang lain untuk mengakses sumber-sumber ekonomi dan kekuasaan yang mereka miliki. Pembukaan akses bagi masyarakat miskin hanya bisa terjadi jika kelas yang berkuasa dirombak.
Kedua, faktor non struktural. Tidak dapat dipungkiri, beberapa ciri jiwa sosial masyarakat kita juga menyumbang bagi pemapanan posisi mereka dalam kelas terpinggirkan. Sikap toleransi terhadap penderitaan yang mereka hadapi (toleransi yang negatif) dan mengutamakan harmoni dari pada menuntut keadilan dan persamaan telah membuat mereka susah untuk didorong lebih maju di dalam menuntut hak-hak asasinya.
Data Maret 2006 menunjukkan sebanyak 39,5 juta (17,75%) penduduk Indonesia berada di bawah garis kemiskinan. Sedangkan pada tahun sebelumnya (2005), jumlah penduduk miskin sebanyak 35,10 juta jiwa (15,97%). Dan apabila kita perhatikan, tren dari data kemiskinan tersebut setiap tahun terus meningkat. Dari tahun 2005 ke tahun 2006 saja terdapat peningkatan jumlah penduduk miskin sebanyak 3,95 juta jiwa.

Menuju Solusi
Mendapatkan kenyataan itu, memang sungguh menyakitkan hati. Akan tetapi hendaknya kenyataan tersebut tidak menimbulkan rasa putus asa bagi penggiat-penggiat perubahan. Masih banyak jalan keluar yang tersedia untuk mendorong berlangsungnya perubahan.
Di antara jalan keluar yang dapat diambil adalah dengan melancarkan program pendidikan yang bermuatan penyadaran dan berorientasi masa depan. Dalam hal ini, sudah sepatutnya institusi-institusi pendidikan yang dikelola oleh ormas-ormas Islam melakukan reformasi, minimum reformasi kurikulum.
Tentu ada pertanyaan, mengapa dibebankan kepada institusi pendidikan? Sebab menurut pendapat saya, bagian yang paling dominan membentuk secara langsung perkembangan diri seseorang terletak pada institusi pendidikan. Sedangkan panduan dan isi yang digunakan oleh guru di dalam membentuk individu tersebut adalah kurikulum.
Oleh karena itu, reformasi kurikulum setidaknya dapat menampung misi penyadaran posisi umat Islam yang lemah dan pembekalan keterampilan hidup praktis. Selama ini, nyaris dapat dikatakan, institusi-institusi pendidikan Islam hanya mereformasi dirinya dengan cara mengadopsi sistem dan managemen pendidikan Barat yang memang sudah jauh berkembang. Cara reformasi semacam itu samalah artinya mempermanenkan umat Islam berada di belakang kemajuan yang dicapai oleh umat lain. (H-rey)

ROMANTIKA, DIALEKTIKA DAN POLITIKA PERGERAKAN HMI

Dunia perjuangan memang penuh dengan liku-liku yang menarik untuk dinikmati baik dari dinamikanya ataupun intrik-intrik yang ada didalamnya. Perjuangan identik dengan pergerakan yang kedua kata tersebut hampir tidak ada bedanya, perjuangan tanpa adanya pergerakan adalah tidak mungkin(Imposible) atau dengan kata lain pergerakan adalah alat untuk berjuang karena hanya dengan bergerak perjuanagan dapat dilakukan bukan dengan diam atau bergerak tapi ditempat.
Bebicara tentang romantika, dialektika dan politika kehidupan HMI tentunya bukanlah hal baru yang dikaji oleh para kadernya. Sebagai insane akademis yang mempunyai jiwa pencipta dan pengabdi yang dikendalikan oleh ajaran paling hakiki (islam) dan mempunyai tujuan yang mulia yaitu mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur yang diridhoi Allah SWT kader HMI tidak pernah ketinggalan dari berbagai permalahan sehingga tidak heran HMI menjadi organisasi besar yang menganggap dirinya menjadi problem solver setiap masalah.
Tidak perlu melantur memang kalau membicarakan HMI, cukup hanya dengan membicarakan 3 hal yaitu cinta, diskusi pembenaran dan politik. Tiga hal tersebut adalah tema utama kehidupan berHMI kalau tidak percaya boleh dichek and recheck disetiap sudut kehidupan HMI. Romantika ada kaitannya dengan cinta atau bisa dikatakan sebagai sesuatu yang indah. “HMI memang indah” mungkin itulah salah satu ungkapan yang bias saja terlontar baik dari dari kadernya sendiri ataupun para pengamat kader. Dari sisi historis HMI pernah mangalami masa-masa yang indah, dengan penuh perjuangan dan pengorbanan HMI berhasil melahirkan intelektual-intelektual islam berkualaitas yang pemikiran-pemikirannya mampu mempengaruhi berbagai sendi kehidupan di Indonesia. Salah satu contohnya adalah budaya rasionalisme yang sering diagung agungkan oleh sebagian masyarakat di Indonesia.
Dari segi kehidupan sehari-hari pun HMI sangat Romantik baik kehidupan organisasi maupun kehidupan para anggotanya bahkan para alumninya. Saat sekarang yang paling menonjol dan patut diacungi dua jempol adalah kecintaan para kader Hmi yang masih bertahan untuk mempertahankan eksistensi dan regenerasi organisasi HMI walaupun tidak sedikit orang mencibirkan mulutnya menganggap bahwa HMI telah mati, HMi tidak mampu lagi melahirkan intelektual-intelektual muslim, pokoknya HMI tidak bagus lagi, menjadi beban sejarah dan Negara, dan ynag paling ekstrim adalah “BUBARKAN HMI SEKARANG ATAU BESOK!!!”. Ironis memang tapi sebaik baik orang bijak adalah yang bermuhasabah dan optimis menyongsong hari depan mungkin ungpan yang pas adalah biarkan “…..” menggonggong yang waras jalan terus atau istilah jawanya “rawe-rawe rantas malang-malang putung” yang kalau di Indonesiakan maju terus pantang mundur.
Dari berbagai diskusi-diskusi ringan para kadernya diberbagai bawah pohon(jambu, beringin,jengkol,sawit,dll) menghasilakan pemikiran baru mengenai proses regenerasi di HMI, salah satunya dengan konsep cinta. Dalam hal ini yang diasumsikan bahwa cinta adalah pengorbanan dan penghambaan. Dari asumsi ini hal yang bias dilakukan adalah dengan dengan menumbuhkan rasa cinta anggota hmi terhadap organisasinya. Pengorbanan dan penghambaan akan menghasiklan konsep militan yang akan berpuncakkan pada output yang berkualitas yangv mampu bermanfaat bagi umat. Kalau dilihat dari proses pengkaderannya sendiri hal utama yang menjadi maslah adalah rasa memiliki para anggotanaya. Memiliki teman maupun memiliki lawan. Atau bisa dikatan bahwa anggota hmi tidalk lagi saling mencintai, tidak lagi ada rasa rela berkorban tanpa pamrih terhadap anggota ynag lain. Sebagian angotta hmi hanya memikirkan kepentingan atau obsesi dirinya sendiri yang kadang menyakiti hatipun manjadi halal untuk dilakukan. Sekali lagi cinta sudah hilang diterpa badai kehidupan dan gilasan roda kepentingan.
Hal optimis yang bisa dilakukan adalah dengan sedikit berdendang “badaiii pasti berlalu”,atau dengan meneriakkan slogan abadinya HMI yaitu yakin usaha sampai atau biasa disingkat “YAKUSA”. Cinta perlu dibudayakan dan dilestarikan, mencintai bukanlah sebuah dosa, mencintai akan menciptakan senyum, senyum tidak dosa, senyum bisa menghasilkan pahala, pahala bukan dosa, pahala bisa membawa ke surga, kesurga bukan karena dosa. Saling mencintai juga dianjurkan bukan malah ditentang atau digosipkan. Dengan saling mencintai akan membawa kepercayaan, dengan kepercayaan membawakan persatuan, dengan bersatu tidak mustahil tujuan yang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur dapat trercapai. Kita pakai istilah sapu lidi sajalah “satu lidi tentunya lebih lemah dari dua lidi, dua lidi tentunya lebih lemah dari seratus lidi” ya sudahlah …..mari kita saling mencintai, berdamai dan tersenyum..he…he..he..
www.iboed.wordpress.com/kamis,17 januari 2008 pukul 11.30 p.m.

Ketika Amanah Terbengkalai Ego

Tepat pukul 5.00 dini hari selepas azan subuh aku berikrar dengan disaksikan oleh Sang Mengetahui.. Berikrar untuk setia dan mematuhi konstitusi yang ada. Berikrar untuk mewujudkan tujuan organisasi menuju insan cita. dan yang terpenting berikrar untuk menjalankan kewajiban seorang muslim dan muslimah sejati.
Seiring berjalannya waktu yang tidak selalu mulus kita melakukan beberapa kealpaan baik itu besar ataupun kecil. Hal ini sangat lumrah dimana memang fitrah manusia yang melakukan salah. namun itu bukan akhir segalanya. ketika kesalahan yang kita perbuat hanya berhenti sebagai sebuah kesalahan, itu akan menjadikan kita orang yang kerdil. terlepas kita menyadarinya ataupun tidak. Untuk terus berjalan kedepan, jejak langkah harus kita tinggalkan. namun ketika jejak yang tercipta itu salah arah, kita harus memperbaikinya dengan taubatan nasuha dan berikhtiar untuk hari depan yang lebih baik.
sebagai manusia biasa kita memiliki amanah untuk menjadi khalifah fil ardh dan menjalankan kehidupan dengan sebaik-baiknya. Dan ketika menjadi seorang pemimpin amanah yang diemban pun semakin berat. Ada banyak kategori pemimpin, yaitu pemimpin diri sendiri, pemimpin rumah tangga, pemimpin organisasi, pemimpin negara dan lain sebagainya. Sebagai seorang pemimpin tentulah memiliki sifat-sitaf kepemimpinan yang baik yang diharapkan mampu membawa wadah yang menaunginya pada sebuah kesuksesan. namu kembali lagi pada fitrahnya manusia memiliki egoisme masing-masing yang kadarnya tentu berbeda-beda pada setiap orang.

Sebagai seorang muslim kita tentu menyadari bahwa sebuah amanah apapun itu bentuknya harus dijalani dan dipertanggung-jawabkan suatu hari nanti. Konflik hadir untuk mendewasakan diri dan menyempurnakan proses yang kita jalani. Suatu musibah jika kita terbiasa mengedepankan egoisme dan meninggalkan amanah. Terlebih lagi jika ego tersebut mengkambing hitamkan konflik untuk tidak menjalankan amanah yang sudah dipercayakan.
[by.tehfairiez]

Menilai Sebuah Pergerakan dalam Eksistensi Seorang Kader

[Oleh: Medio Yulistio]

Mencari harapan untuk perubahan kearah kemajuan di Provinsi Bengkulu mungkin teriakan dan nyanyian perjuangan mahasiswa masih bisa dianggap dan dinilai sebagai sarana untuk mengawal perubahan-perubahan tersebut. Dengan meneriakkan dan mengusung sebuah kebenaran untuk umat. Kondisi dan realitas pembangunan Bengkulu yang dinilai stagnan dan mungkin sebuah kemunduran yang memicu apa terjadi di provinsi tercinta ini.
Tapi……
Beberapa pertanyaan kerap kali mucul dan hal iyu sangat mengganggu. Ada sebuah pertanyaan yang saat ini memiliki bermacam-macam jawaban “apa yang mahasiswa cari sebenarnya?”. Mungkin pertanyaan itu saya katakana sepele tapi kita tidak tahu jawabannya. Meilai dari kacamata sebuah popularitas saya ingin menguak sedikit dengan beberapa pertanyaan yang timbul :
Apakah mahasiswa memang berjuang sebagai wujud fungsi, dan peran mahasiswa itu sendiri?
Apakah mahasiswa memang berjuang sebagai wujud eksistensi umat manusia sebagai makhluk sosial ?
Apakah ini memang sebuah gerakan moral?
Hari ini persoalan yang terjadi, mahasiswa tidak tahu jawaban itu sendiri. Saya teringat perkataan sang revolusioner yaitu Hariman Siregar, bahwa saat idealisme dihancurkan oleh digilasnya zaman dan kesempatan.
Kembali kepada saya dan kawan-kawan sebagai kader HMI, ada beberapa pemikiran dan pencerahan untuk kita dalam eksistensi kader. Hendaknya semua apa yang dapat kita lakukan untuk sebuah perubahan adalah benar-benar murni dari keinginan untuk sebuah perubahan, sebuah kemajuan umat dan sebuah roda kemajuan negeri tercinta ini.
Kekuatan moral yang terus kita nyanyikan diharapkan terlepas dari apapun. Tidak ada kepentingan dalam kepentingan, jauhkan semaksimal mungkin semua bentuk intervensi demi kepentingan pribadi. Sebuah niat ikhlas untuk menuju ketakwaan terhadap Allah SWT adalah kunci seorang kader menghadapi jeritan dan tangisan rakyat…
Rakyat Pasti Menang…!!!!
Yakusa….

Peran Komisariat dalam Pengkaderan

Medio Yulistio*

Himpunan mahasiswa Islam berdiri di Yogyakarta pada tanggal 14 Rabiul Awal 1366 Hijriah, bertepatan dengan 5 Februari 1947 yang dipelopori oleh Lafran Pane. tentunya ada sebuah motif atau latar belakang mengapa HMI berdiri pada masa itu, yang saya tinjau secara umum adalah kondisi politik bangsa Indonesia, kondisi umat islam, dan kondisi perguruan tinggi dan kemahasiswaan pada masa itu yang dirasakan tidak akomodatif, maka dari itu HMI mencoba mengisi kemerdekaan kearah yang lebih baik melalui proses pengkaderan untuk dapat merubah kondisi bangsa saat itu serta mempertinggi derajat rakyat Indonesia dan mengembangkan agama Islam.
HMI adalah sebuah organisasi pengkaderan. Mengapa demikian, karena disini HMI mengakomodir kekuatan mahasiswa yang nantinya akan dikader untuk menjadi golongan kaum intelektual muda yang bermoral dan berhati nurani pada realitas kondisi umat yang tertindas, mahasiswa dengan sikap kritis, mahasiswa yang selalu berpandangan kedepan (future oriented), mahasiswa yang tentunya memiliki kualitas personal yang sangat baik, mahasiswa yang membawa sebuah perubahan kearah kemajuan (agent of changes) dan mahasiswa yang dapat menyuarakan kebenaran secara hakiki. Hal ini sudah terangkum jelas di dalam tujuan HMI itu sendiri, yaitu kualitas Insan Cita.
HMI telah berjalan bersama waktu dari masa kemasa. Dengan predikat sebagai organisasi tertua dan terbesar di Indonesia, HMI pun telah melahirkan banyak nama-nama besar yang mengukir sejarah bangsa indonesia. Tentunya ada sebuah proses dan metode yang harus dijalani setiap kader dalam menuju hasil (output) yang diharapkan, yaitu militansi terhadap nilai kualitas insan cita. Sebenarnya, dalam proses pengkaderan tersebut, banyak indikator-indikator yang mendukung keberhasilan tersebut. Pada kesempatan kali ini, saya mencoba sedikit menyampaikan buah pemikiran tentang arti pentingnya Komisariat dalam sebuah proses pengkaderan.

Komisariat adalah bagian terkecil dari struktur kelembagaan HMI, tetapi Komisariat merupakan pemasok terbesar dalam sebuah proses Regenerasi dalam menjaga kesinambungan keberadaan HMI itu sendiri atau dengan kata lain komisariat adalah stakeholder bagi HMI. Komisariat juga merupakan pondasi kekuatan HMI. Jadi Komisariat dapat diibaratkan sebagai kertas kanvas bagi seorang pelukis.
Dalam sebuah proses perekrutan (recruitment) kader HMI dalam konteks ideal dalam wujud Latihan Kader I (basic trainning) diadakan pada tataran komisariat. Dengan wilayah teritorial yang kecil yaitu tingkat fakultas, komisariat mempunyai andil dalam proses pengkaderan HMI itu sendiri. Dimana pasca LK I, setiap kader yang telah mengikuti training tersebut untuk selanjutnya merupakan tanggung jawab Komisariat dalam proses pengkaderannya.
Komisariat adalah area pertama yang harus disentuh oleh kader HMI itu sendiri. Di sanalah pembentukan awal proses pengembangan diri didapat. Dikomisariatlah tempat pertama kali kita dapat banyak belajar dalam menemukan jati diri identitas seorang mahasiswa. Jadi komisariat sangat berperan terhadap suatu hasil nantinya dalam sebuah proses pengkaderan. Angka maksimal sepatutnya dilakukan komisariat dalam suatu proses pengkaderan.
Setiap iklim dan lingkungan juga metode yang melekat pada suatu Komisariat, secara langsung ataupun tidak langsung akan berpengaruh terhadap pembentukan watak atau karakter kader didalam Komisariat. Pada tataran Komisariat, pada umumnya kita berupaya menemukan dan belajar. Di tingkat Komisariatlah yang juga berpengaruh atas eksistensi kita sebagai kader HMI, mengapa demikian, karena semua pandangan utama kita mencoba menyocokkan dengan sebuah lingkungan yang baru kita lihat, sebuah kehidupan baru yang harus kita sesuaikan. Yakni sebuah proses seleksi atas sebuah ideologi yang akan dibangun dalam busur HMI.
Kebijakan-kebijakan strategis Komisariat akan membawa kepada sebuah tabel pengaruh kepembentukan kader. Semakin baik kemampuan sebuah Komisariat dalam memformulasikan metode pengkaderan tentunya akan menghasilkan produk yang berkualitas pula. Jadi proses pengkaderan tidak bisa lepas oleh peran Komisariat. Sebuah proses pembelajaran awal, sebuah proses pemahaman tingkat dasar, baik dalam bentuk materi, dinamika dan konflik. Sebuah suasana kondusif dan efektif dalam sebuah Komisariat akan membawa kelampiran komunikasi yang efektif antara hubugan vertikal

horizontal didalam Komisariat itu sendiri. Komisariat adalah ranah kita untuk mengumpulkan bekal yang akan kita bawa berjuang. Dengan tingkat kreatifitas anggota Komisariat dalam sebuah proses pengkaderan, maka hasil dari proses pengkaderan tersebut akan berdampak positif.
Bukan hanya itu, Komisariat adalah wadah atau tempat mengakomodir kader dalam setiap aktifitas yang menunjang proses pengkaderan. Bukan hanya metode, namun sarana dan prasarana Komisariat dalam proses pengkaderan sangat dibutuhkan. Kualitas perumus kebijakan dalam Komisariat harus bisa menghasilkan sebuah proses yang baik dalam sebuah proses pengkaderan. Nilai-nilai spritual dan intelektual yang dibangun dan diciptakan dalam komisariat akan memberi sebuah pengaruh yang baik. Ditataran Komisariatlah kader mulai ditempah dan belajar untuk menjadi sosok seorang kaum intelektual. Apabila sehat suatu Komisariat, maka sehat pula kadernya.
Fenomena yang terjadi sekarang, HMI Saat ini telah mencapai sebuah titik kritis dalam proses pengkaderan yang dinilai telah mengalami kehilangan identitas, degradasi moral dan juga dapat dikatakan mencapai titik stagnant. Maka, komisariat harus tetap exist dan fokus untuk membangun HMI. Refleksi, revaluasi dan progresive dalam pengkaderan sangat dibutuhkan dalam perjalanan HMI kedepan, jadi komisariat dituntut untuk dapat bekerja ekstra dalam mengatasi permasalahan ini.
Komisariat adalah bingkai dari potret HMI secara umum dalam skala tertentu. Maka dapat disimpulkan bahwa Komisariat merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari proses pengkaderan ditubuh HMI yang sangat vital sifatnya dalam laju proses continuitas pengkaderan. Apa yang ditanamkam dan diolah didalam Komisariat dalam sebuah proses Pengkaderan akan berbanding lurus terhadap hasilnya. Jadi, semakin baik out put yang dihasilkan Komisariat, maka HMI tetap survive dari masa kemasa dalam menghadapi tantangan zaman.
YAKUSA...?

[*Penulis adalah Ketua Umum HMI Komisariat Fakultas Ekonomi UNIB periode 2007-2008]

Pengkaderan HmI: "Antara Harapan dan Kenyataan"

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) adalah salah satu Organisasi Kemasyarakatan dan Kepemudaan (OKP) yang ada di Indonesia, mempunyai fungsi sebagai organisasi pengkaderan dan berperan sebagai organisasi perjuangan. Kedua hal tersebut membawa semangat yang luar biasa sehingga para kader HMI mampu memberi kontribusi yang positif dalam setiap perubahan yang terjadi di Indonesia.

Fungsi HMI sebagai organisasi pengkaderan yang mampu menjadikan HMI besar di kalangan OKP yang ada di Indonesia, pada saat ini menjadi bahan telaah dalam diskusi-diskusi para kader baik junior maupun senior HMI sendiri. Fenomena kemunduran HMI sekarang yang semakin parah dirasakan adalah semakin berkurangnya minat mahasiswa dan beragama Islam untuk menjadi anggota HMI. Yang lebih parah lagi, ketika sudah menjadi kader HMI mereka tidak tahu akan status, fungsi dan perannya sebagai kader HMI. Dari diskusi-diskusi yang ada berbagai pendapat muncul yang semuanya mengkerucut pada satu pemaslahan yaitu pengakaderan HMI yang tidak sesuai harapan dan kenyataan.

Menurut salah seorang kader HMI yang tidak mau disebut namanya ”Saya sebenarnya tidak tahu untuk apa saya masuk HMI, tapi setelah saya pelajari dan saya ikuti kegiatan-kegiatan yang ada di HMI saya menjadi tahu untuk apa saya masuk HMI, tapi yang menjadi persoalan adalah saya kurang mengerti mengapa sekarang HMI tidak segagah yang dulu baik dari segi gerakan maupun segi pengkaderannya? Pernyataan tersebut merupakan keluhan umum pada semua kader HMI, untuk merasakan dan mencoba bangkit tapi tidak bisa, mungkin karena sistem dan pola pengkaderannya sudah rusak dan perlu direfresh kembali sehingga mampu membangkitkan semangat para kader HMI untuk kembali berjuang mengatasi permasalahan-permasalahan umat.
“Pengkaderan HMI sudah mencapai titik kronis, dimana dari segi pola pengkaderan HMI sendiri mengalami kemunduran dalam kualitas” ungkap salah satu senior HMI. Beliau menambahkan dengan nada kesal “permasalahan pengkaderan HMI ini adalah permasalahan kita bersama sebagai kader HMI baik anggota, pengurus maupun alumni HMI. Karena jika hal ini dibiarkan, bisa jadi umur HMI tidak akan lama lagi. Kalaupun masih ada, HMI akan tetap seperti sekarang, menjadi pelengkap sederetan organisasi-organisasi mahasiswa, tanpa mampu berbuat apa-apa dalam setiap momentum perubahan ke arah perbaikan kehidupan umat. Sebagai contoh adalah pelaksanaan Latihan Kader I (basic training), dimana kualitas materi dan pematerinya dipertanyakan?? Apakah sesuai atau tidak untuk pola pengkaderan HMI pada saat ini. Follow-up yang tidak dijalankan oleh pengurus HMI akan menambah kesempurnaan mundurnya HMI. Maka kita tidak usah heran, jika kader HMI sekarang tidak ada bedanya dengan mahasiswa biasa.”

Setelah sadar akan kekurangan maka solusi harus muncul untuk mengembalikan HMI pada Khittahnya sebagai organisasi pengkaderan dan organisasi perjuangan. Salah satunya dikenal dengan “Senior Turun Gunung”. Senior atau alumni HMI adalah salah satu komponen yang harus bertanggung jawab atas kemundurun HMI pada saat ini. Sudah saatnya mereka menurunkan gengsi untuk turun kembali membenahi kerusakan-kerusakan yang ada di HMI ini. Seperti istilah ‘kacang lupa pada kulitnya’, sekarang banyak alumni tidak lagi perduli dengan HMI, dan hanya sebagian kecil yang perduli, karena menganggap HMI-lah yang menjadikan mereka besar dan sukses.

Permasalahan pengkaderan sangat kompleks sehingga membutuhkan kerjasama yang baik antara anggota, pengurus maupun alumni HMI. Karena kalau salah satu komponen tersebut tidak maksimal, maka jelas akan tetap menghasilkan hancurnya identitas HMI dimasa yang akan datang.
YAKIN USAHA SAMPAI
(by.Simbah,M.Gk)

Selasa, 15 April 2008

iFtiTah

bismillahirrahmanirrohiim..
Assalamu'alaikum wr.wb.

Teriring salam dan do'a semoga Allah swt, senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahNya kepada kita dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, amiin.. amiin ya rabbal alamiin..

Alhamdulillahirabbal alamin, dengan segala kerendahan hati dan semangat kemerdekaan pemikiran kami pengurus Himpunan Mahasiswa Islam (HmI) Komisariat Fakultas Ekonomi Universitas Bengkulu periode 2007-2008 mempersembahkan media informasi komunikasi bagi kader-kader HmI untuk mempererat ukhuwah serta menuangkan pemikiran yang kritis, kongkrit dan solutif bagi kemajuan HmI dan umat.

Kami mempersilahkan bagi siapa saja yang merdeka pemikirannya untuk bergabung dan berpartisipasi aktif.

Demikianlah sedikit salam dari kami, atas perhatiannya kami ucapkan terimakasih.

billahit taufiq wal hidayah
wassalamu'alaikum wr.wb.